Foto ini merupakan foto anak Burung Kasuari. Burung ini unik sekali khas burung dari wilayah timur Indonesia. Salah satu rekan kerja saya mendapatkannya di hutan sekitar area rig site. Menurut beliau, si induk sedang menggiring anak-anaknya mencari makan ketika teman saya ini lewat. Dengan semangat teman saya mengejar anak induk itu. Tak dapat induknya, anaknya pun jadi. Anehnya, anak burung ini cepat sekali jinak. Tak seperti unggas biasanya yang tak bisa nurut dengan manusia, tapi burung ini seperti anjing saja, jinak mengikuti sang majikan baru. Di papua sini, burung semacam itu sudah hal biasa, malah ada penduduk yang memeliharanya seperti halnya memelihara ayam. Ukurannya ktika dewasa cukup besar untuk ukuran unggas kebanyakan. Siap-siap saja mendapat complain dari tetangga, karena si burung dewasa gemar memakan apapun dan melibas apapun yang dilewatinya termasuk pagar kayu dan bambu.
Melihat anak Burung Kasuari merupakan salah satu pengalaman menarik saat saya bekerja di Papua. Lokasi kerja saya bertempat di Pulau Salawati, Papua Barat. Pulau ini cukup luas dan berada tepat di kepala burung Pulau Papua. Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Salawati, saya harus turun dari Bandar Udara Kota Sorong (Domine Eduard Osok). Kota ini konon merupakan pintu gerbangnya seluruh Papua. Terdiri dari multi etnis dan multi agama disini, dengan komposisi terbesar dari etnis bugis, makasar, maluku dan etnis-etnis lokal. Ada juga penduduk transmigran asal Jawa yang telah berada disini beberapa generasi. Kerukunan antar penduduk cukup baik dan hampir tak pernah ada keributan, sangat berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Gereja dan Masjid bersebelahan dengan rukun dan damai. Kota ini sungguh asri, bersih dan indah, meluas disepanjang pesisir pantai. Bagian belakang kota terdapat bukit-bukit yang cukup curam, tak heran kota ini berkembang memanjang mengikuti bibir pantai. Pantainya hijau biru bersih, ikan-ikan kecil tampak berenang ramai disekitar pelabuhan tempat saya akan menyeberang ke Pulau Salawati. Hanya satu hal yang kurang baik tentang Kota Sorong, yaitu pengidap HIV/AIDS yang cukup tinggi disini. Dianjurkan untuk tidak “JAJAN” sembarangan dan jangan lupa pakai pelindung.
Penyeberangan melalui pelabuhan Kota Sorong menuju Salawati memakan waktu sekitar dua jam perjalanan, melewati pulau-pulau kecil indah yang tak berpenghuni. Perahu-perahu penduduk setempat tak banyak melintas. Perairan disini benar-benar masih jauh dari jangkauan tangan-tangan manusia. Pelabuhan di Salawati tidak begitu besar, hanya untuk satu atau dua boat saja yang bisa berlabuh. Dari sini, saya harus menumpang mobil dan meneruskan perjalanan sekitar setengah jam untuk sampai di camp. Disini saya merasa sangat takjub, hampir tiga per empat dari Pulau Salawati ini terdiri dari Hutan Sagu. Pohon-pohon Sagu disini tumbuh liar tanpa ada yang menanam. Awalnya saya kira pohon-pohon tersebut sejenis palem-paleman setempat atau kelapa sawit karena bentuknya yang hampir sama. Tapi setelah saya tanya dengan rekan saya yang telah lama berada disini, itu adalah Pohon Sagu. Sungguh, ini benar-benar ladang emas. Sagu yang begini banyak tinggal tunggu panen saja, dibiarkan tumbuh liar tak terkendali. Tak ada yang mengklaim daerah itu, mungkin hanya sebagian kecil saja yang merupakan lahan penduduk lokal. Andai saja ada investor yang mau mendirikan pabrik pengolahan sagu disini, akan meraup keuntungan besar dan bisa membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat dengan hasil sagu yang melimpah ruah begini. Setahu saya, penduduk lokal hanya mengolah sagu secara tradisional untuk keperluan sehari-hari mereka. Foto berikut saya ambil disalah satu tempat pengolahan sagu penduduk setempat secara tradisional. 
Sayang sekali, kunjungan saya kali ini tidak bertepatan dengan musim durian. Jangan sangka kalau durian banyak di pulau sumatera saja. Tahun lalu ketika saya bekerja disini bertepatan dengan musim durian. Sailolof adalah perkampungan kecil disalah satu sudut Pulau Salawati ini yang penduduknya menanam Pohon Durian. Mereka bukan penduduk asli pulau ini. Menurut pengakuan mereka, nenek moyang mereka yang berasal dari Maluku telah datang dan mendiami pulau ini cukup lama dan telah menanam banyak sekali Pohon Durian. Pernahkah terbayangkan berada di hutan durian yang dipenuhi dengan buah durian bergelantungan dimana-mana, dan terkadang terdengar bunyi booom keras pertanda ada durian jatuh. Menurut penduduk setempat, tak perlu takut jalan dibawah buah-buah matang tersebut jika hati kita bersih. Hanya orang sial dan celaka saja yang bisa tertimpa durian jatuh dan dipastikan orang itu berhati busuk. Percaya atau tidak, terserah anda yang menilai. Penduduk disini sangat ramah, mereka akan menyuguhkan hasil kebun mereka untuk disantap. Tak usah khawatir berapa yang harus kita bayar untuk durian yang mereka suguhkan. Semua gratis. Makan sepuasnya. Tapi tetap, sebagai rasa terimakasih kita harus memberi mereka uang. Dengan uang tiga puluh ribu saja kita akan diberi bonus oleh-oleh durian sekarung. Sanggupkah menghabiskan begitu banyak durian?
Siang itu panas sekali, saat saya memluai pekerjaan disini. Bukan rig drilling yang saya jumpai melainkan rig kecil untuk keperluan workover atau well service. Tak begitu banyak pekerjaan di rig kecil seperti ini. Aktivitasnya pun tak sesibuk rig drilling. Sumur yang sudah memproduksi minyak pada saat-saat tertentu perlu juga diservis agar produksinya selalu prima. Bentuk sumur seperti ini sudah jadi, dalam arti bentuknya sudah cantik siap digunakan. Tak banyak perlakuan terhadap sumur produksi, berbeda dengan sumur explorasi, oleh karenanya rig kecil saja sudah cukup. Pekerjaan utama men-service sumur tak lepas dari bersih-bersih lubang yang terdiri dari pengangkatan pipa tubing, mengeluarkan pompa dan motor dari dalam sumur dan membersihkannya. Jika pompa dan motor rusak, biasanya akan diganti dengan yang baru dan kemudian dimasukkan lagi ke dalam sumur untuk memproduksi minyak kembali. Atau jika produksi minyak menurun, akan dilakukan kegiatan swab atau dalam bahasa sederhananya menyedot minyak didalam formasi batuan agar lebih mudah dan lebih banyak minyak yang mengalir ke dalam sumur. Dan masih ada beberapa pekerjaan lagi dalam workover atau well service tergantung kebutuhan.

Pada saat kru kami selesai men-setting peralatan saat ini, aktivitas rig sedang mencabut tubing dari dalam sumur. Sialnya, dua buah pompa, motor, protector dan gas separator tertinggal di dalam sumur. Terpaksa dilakukan pekerjaan fishing untuk mengangkat alat-alat tersebut. Pekerjaan fishing cukup sulit karena tidak diketahui keadaan di bawah sana seperti apa. Bisa saja hanya satu pompa yang berhasil diangkat, sebagian, atau bisa juga semuanya. Tergantung keberuntungan juga. Pekerjaan fishing ini bisa memakan waktu berhari-hari lamanya.
Ada beberapa hal yang merepotkan ketika bekerja di rig darat seperti ini. Jika hujan tiba, bersiaplah bergelut dengan Lumpur. Kondisi tanah disekitar rig tidaklah padu, apalagi ketika dilewati oleh truck-truck besar, forklift ataupun crane. Diperlukan sepatu khusus untuk melintasi daerah-daerah berlumpur ini, jika tidak sepatu biasa pastilah rusak akibat korban Lumpur. Dirt Disaster.
Kembali ke Kota Sorong. Jika anda berminat untuk tinggal di kota ini, anda bisa mencobanya. Kota ini tidak seudik yang dibayangkan. Saya tekejut ketika tahu bahwa tingkat kehidupan penduduknya cukup tinggi. Murid sekolah menengah saja ber-HP Nokia N-95. Hand phone Nokia E-90 Communicator yang berharga masih empat belas jutaan sudah hal biasa disini. Tak ada orang yang mau menggunakan hand phone seharga dibawah satu jutaan. Tukang ojeg saja memiliki hand phone yang cukup bagus. Sarana-sarana umum juga sudah cukup memadai. Ini cerminan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat kota ini sudah baik. Anda tertarik untuk tinggal atau memulai bisnis di Sorong? Silahkan mencoba.