AM3THYST

Jangan Takut Gagal, Masih Ada Hari Esok

  • TERIMA KASIH

    Apa kabar? semoga baik2 saja. Senang sekali, anda bisa berkunjung ke blog saya ini. Kritik dan sarannya sangat saya harapkan. Karena akan sangat berguna buat saya untuk membuat blog ini menjadi berarti dan bermakna. Untuk itu, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
  • HASIL PENGEBORAN

  • EKSPLORASI

  • PENGEBORAN DATA

  • DISCLAMER

    Opini yang ditulis dalam blog ini adalah semata-mata opini pribadi saya dan tidak mewakili sikap atau pendapat organisasi atau institusi atau perusahaan yang berkaitan dengan saya langsung maupun tidak langsung. Saya tidak bertanggung jawab atas komentar, trackback dan pingback yang ditulis oleh pihak lain selain saya. Seluruh komentar, trackback dan pingback adalah tanggung jawab masing-masing pemiliknya. Saya akan memberikan informasi yang ada tentang penulis komentar, trackback dan pingback jika diminta secara hukum. Tulisan saya bisa memuat kutipan dari sumber lain. Saya tidak bertanggung jawab atas isi dari kutipan maupun tulisan yang saya kutip secara keseluruhan. Kutipan adalah milik dari pemiliknya masing-masing, dan digunakan dalam blog ini demi kemudahan pembacanya.

Arsip untuk ‘Journey’ Kategori

PILKADA; Ajang Narcisme?

Ditulis oleh pr4s di/pada Maret 26, 2008

Sudah lama saya tidak meng-update blog ini, maklum sibuk diping-pong kesana kemari dari satu kota ke kota lain di penjuru nusantara ini. Dan tak sengaja saya menemukan sesuatu yang mirip alias hampir sama di beberapa kota. Begitu banyaknya poster-poster calon pemimpin daerah yang dipajang besar-besar di beberapa sudut kota. Begitu banyaknya poster itu hampir-hampir bisa ditemukan dipelosok kota. Poster pasangan-pasangan yang bertarung dalam PILKADA.

Poster foto-foto calon pemimpin itu sepertinya dibikin semenarik mungkin. Jika diperhatikan detailnya, saya pikir foto itu sudah diedit disana sini menggunakan efek komputer sehingga tampak menarik. Perhatikan saja, begitu mulusnya kulit wajah mereka sampai-sampai tak terlihat benjolan sedikitpun. Saya tertawa melihat fenomena seperti ini. Mungkin jika penampilam ok dan paras elok bisa menarik perhatian ibu-ibu supaya memlilih mereka seperti tayangan yang sedang naik daun sekarang (AFI, Indonesian Idol, KDI, de el el). Apakah ini yang namanya PILKADA atau audisi coverboy?

Benar-benar narcist.

Silahkan berkomentar semaunya……………………

Ditulis dalam Gado-Gado, Journey | 5 Komentar »

Kepala Burung Papua

Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 7, 2007

KasuariFoto ini merupakan foto anak Burung Kasuari. Burung ini unik sekali khas burung dari wilayah timur Indonesia. Salah satu rekan kerja saya mendapatkannya di hutan sekitar area rig site. Menurut beliau, si induk sedang menggiring anak-anaknya mencari makan ketika teman saya ini lewat. Dengan semangat teman saya mengejar anak induk itu. Tak dapat induknya, anaknya pun jadi. Anehnya, anak burung ini cepat sekali jinak. Tak seperti unggas biasanya yang tak bisa nurut dengan manusia, tapi burung ini seperti anjing saja, jinak mengikuti sang majikan baru. Di papua sini, burung semacam itu sudah hal biasa, malah ada penduduk yang memeliharanya seperti halnya memelihara ayam. Ukurannya ktika dewasa cukup besar untuk ukuran unggas kebanyakan. Siap-siap saja mendapat complain dari tetangga, karena si burung dewasa gemar memakan apapun dan melibas apapun yang dilewatinya termasuk pagar kayu dan bambu.

 

Melihat anak Burung Kasuari merupakan salah satu pengalaman menarik saat saya bekerja di Papua. Lokasi kerja saya bertempat di Pulau Salawati, Papua Barat. Pulau ini cukup luas dan berada tepat di kepala burung Pulau Papua. Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Salawati, saya harus turun dari Bandar Udara Kota Sorong (Domine Eduard Osok). Kota ini konon merupakan pintu gerbangnya seluruh Papua. Terdiri dari multi etnis dan multi agama disini, dengan komposisi terbesar dari etnis bugis, makasar, maluku dan etnis-etnis lokal. Ada juga penduduk transmigran asal Jawa yang telah berada disini beberapa generasi. Kerukunan antar penduduk cukup baik dan hampir tak pernah ada keributan, sangat berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Gereja dan Masjid bersebelahan dengan rukun dan damai. Kota ini sungguh asri, bersih dan indah, meluas disepanjang pesisir pantai. Bagian belakang kota terdapat bukit-bukit yang cukup curam, tak heran kota ini berkembang memanjang mengikuti bibir pantai. Pantainya hijau biru bersih, ikan-ikan kecil tampak berenang ramai disekitar pelabuhan tempat saya akan menyeberang ke Pulau Salawati. Hanya satu hal yang kurang baik tentang Kota Sorong, yaitu pengidap HIV/AIDS yang cukup tinggi disini. Dianjurkan untuk tidak “JAJAN” sembarangan dan jangan lupa pakai pelindung.

 

 

Penyeberangan melalui pelabuhan Kota Sorong menuju Salawati memakan waktu sekitar dua jam perjalanan, melewati pulau-pulau kecil indah yang tak berpenghuni. Perahu-perahu penduduk setempat tak banyak melintas. Perairan disini benar-benar masih jauh dari jangkauan tangan-tangan manusia. Pelabuhan di Salawati tidak begitu besar, hanya untuk satu atau dua boat saja yang bisa berlabuh. Dari sini, saya harus menumpang mobil dan meneruskan perjalanan sekitar setengah jam untuk sampai di camp. Disini saya merasa sangat takjub, hampir tiga per empat dari Pulau Salawati ini terdiri dari Hutan Sagu. Pohon-pohon Sagu disini tumbuh liar tanpa ada yang menanam. Awalnya saya kira pohon-pohon tersebut sejenis palem-paleman setempat atau kelapa sawit karena bentuknya yang hampir sama. Tapi setelah saya tanya dengan rekan saya yang telah lama berada disini, itu adalah Pohon Sagu. Sungguh, ini benar-benar ladang emas. Sagu yang begini banyak tinggal tunggu panen saja, dibiarkan tumbuh liar tak terkendali. Tak ada yang mengklaim daerah itu, mungkin hanya sebagian kecil saja yang merupakan lahan penduduk lokal. Andai saja ada investor yang mau mendirikan pabrik pengolahan sagu disini, akan meraup keuntungan besar dan bisa membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat dengan hasil sagu yang melimpah ruah begini. Setahu saya, penduduk lokal hanya mengolah sagu secara tradisional untuk keperluan sehari-hari mereka. Foto berikut saya ambil disalah satu tempat pengolahan sagu penduduk setempat secara tradisional. Bikin Sagu

Sayang sekali, kunjungan saya kali ini tidak bertepatan dengan musim durian. Jangan sangka kalau durian banyak di pulau sumatera saja. Tahun lalu ketika saya bekerja disini bertepatan dengan musim durian. Sailolof adalah perkampungan kecil disalah satu sudut Pulau Salawati ini yang penduduknya menanam Pohon Durian. Mereka bukan penduduk asli pulau ini. Menurut pengakuan mereka, nenek moyang mereka yang berasal dari Maluku telah datang dan mendiami pulau ini cukup lama dan telah menanam banyak sekali Pohon Durian. Pernahkah terbayangkan berada di hutan durian yang dipenuhi dengan buah durian bergelantungan dimana-mana, dan terkadang terdengar bunyi booom keras pertanda ada durian jatuh. Menurut penduduk setempat, tak perlu takut jalan dibawah buah-buah matang tersebut jika hati kita bersih. Hanya orang sial dan celaka saja yang bisa tertimpa durian jatuh dan dipastikan orang itu berhati busuk. Percaya atau tidak, terserah anda yang menilai. Penduduk disini sangat ramah, mereka akan menyuguhkan hasil kebun mereka untuk disantap. Tak usah khawatir berapa yang harus kita bayar untuk durian yang mereka suguhkan. Semua gratis. Makan sepuasnya. Tapi tetap, sebagai rasa terimakasih kita harus memberi mereka uang. Dengan uang tiga puluh ribu saja kita akan diberi bonus oleh-oleh durian sekarung. Sanggupkah menghabiskan begitu banyak durian?

 

Siang itu panas sekali, saat saya memluai pekerjaan disini. Bukan rig drilling yang saya jumpai melainkan rig kecil untuk keperluan workover atau well service. Tak begitu banyak pekerjaan di rig kecil seperti ini. Aktivitasnya pun tak sesibuk rig drilling. Sumur yang sudah memproduksi minyak pada saat-saat tertentu perlu juga diservis agar produksinya selalu prima. Bentuk sumur seperti ini sudah jadi, dalam arti bentuknya sudah cantik siap digunakan. Tak banyak perlakuan terhadap sumur produksi, berbeda dengan sumur explorasi, oleh karenanya rig kecil saja sudah cukup. Pekerjaan utama men-service sumur tak lepas dari bersih-bersih lubang yang terdiri dari pengangkatan pipa tubing, mengeluarkan pompa dan motor dari dalam sumur dan membersihkannya. Jika pompa dan motor rusak, biasanya akan diganti dengan yang baru dan kemudian dimasukkan lagi ke dalam sumur untuk memproduksi minyak kembali. Atau jika produksi minyak menurun, akan dilakukan kegiatan swab atau dalam bahasa sederhananya menyedot minyak didalam formasi batuan agar lebih mudah dan lebih banyak minyak yang mengalir ke dalam sumur. Dan masih ada beberapa pekerjaan lagi dalam workover atau well service tergantung kebutuhan.

Hutan Sagu

 

Pada saat kru kami selesai men-setting peralatan saat ini, aktivitas rig sedang mencabut tubing dari dalam sumur. Sialnya, dua buah pompa, motor, protector dan gas separator tertinggal di dalam sumur. Terpaksa dilakukan pekerjaan fishing untuk mengangkat alat-alat tersebut. Pekerjaan fishing cukup sulit karena tidak diketahui keadaan di bawah sana seperti apa. Bisa saja hanya satu pompa yang berhasil diangkat, sebagian, atau bisa juga semuanya. Tergantung keberuntungan juga. Pekerjaan fishing ini bisa memakan waktu berhari-hari lamanya.

 

Ada beberapa hal yang merepotkan ketika bekerja di rig darat seperti ini. Jika hujan tiba, bersiaplah bergelut dengan Lumpur. Kondisi tanah disekitar rig tidaklah padu, apalagi ketika dilewati oleh truck-truck besar, forklift ataupun crane. Diperlukan sepatu khusus untuk melintasi daerah-daerah berlumpur ini, jika tidak sepatu biasa pastilah rusak akibat korban Lumpur. Dirt Disaster.

 

Kembali ke Kota Sorong. Jika anda berminat untuk tinggal di kota ini, anda bisa mencobanya. Kota ini tidak seudik yang dibayangkan. Saya tekejut ketika tahu bahwa tingkat kehidupan penduduknya cukup tinggi. Murid sekolah menengah saja ber-HP Nokia N-95. Hand phone Nokia E-90 Communicator yang berharga masih empat belas jutaan sudah hal biasa disini. Tak ada orang yang mau menggunakan hand phone seharga dibawah satu jutaan. Tukang ojeg saja memiliki hand phone yang cukup bagus. Sarana-sarana umum juga sudah cukup memadai. Ini cerminan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat kota ini sudah baik. Anda tertarik untuk tinggal atau memulai bisnis di Sorong? Silahkan mencoba.

Ditulis dalam Journey, Rig Operational | 8 Komentar »

Suka Duka Di Lokasi Geothermal

Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 7, 2007

Geothermal Rig

Sudah beberapa lama saya tidak menulis di blog ini, hal itu dikarenakan penugasan saya yang berpindah-pindah. Setelah di Laut Timor, saya diberi tugas untuk bekerja di area Gunung Salak, Sukabumi. Di tempat ini sayangnya tidak ada akses internet, yah mungkin karena kontrak dengan client yang tidak menyediakan akses internet.

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Sukabumi melalui tol Jagorawi kemudian keluar di pintu tol Ciawi. Kemudian jalan akan semakin menyempit begitu keluar dari jalan utama Sukabumi. Saya lupa nama desa yang saya lalui, yang saya ingat penduduk di kawasan itu berkebun teh. Sungguh indah hamparan hijau perkebunan teh di area pegunungan. Saya fikir tempat ini cukup unik, beberapa sinetron atau film mungkin pernah syuting di tempat ini. Selain kebun teh yang indah, disini juga ada pabrik pengolahan teh yang sangat tua terbukti dengan adanya beberapa tulisan dalam bahasa Belanda, cocok buat syuting film horror. Sayang saya kurang memperhatikan detail-detail tempat ini, karena bukan itu tujuan saya kesini.

Lepas dari kebun teh perjalanan kemudian memasuki hutan konservasi dimana terletak area operasi salah satu operator minyak di Indonesia. Tapi kali ini sang operator tidak mencari minyak bumi melainkan panas bumi alias geothermal. Uap dari hasil tungku pemanas alami bumi ini berguna sebagai pembangkit tenaga listrik. Sekitar 20 tahun lalu, bisnis panas bumi dianggap tidak cukup menguntungkan. Tetapi saat ini begitu krisis energi mulai merebak dan kebutuhan energi listrik semakin meningkat, bisnis ini mulai dilirik. Uap panas dijual dan ditampung di dua power plant yang dikelola oleh Indonesia Power. Uap dialirkan melalui pipa-pipa yang bentuknya sedikit berbeda dengan pipa minyak. Pipa uap diberi lapisan terluar yang tahan terhadap panas, sehingga pipa tidak menyebarkan panas ke area sekitarnya.

Geothermal merupakan panas yang dihasilkan bumi. Geo berarti bumi, sedangkan thermal berarti panas. Prinsip dasarnya sederhana saja, daerah yang berada disekitar gunung berapi bisa dipastikan terdapat potensi panas bumi. Lalu muncul pertanyaan, mengapa di gunung? Gunung terbentuk akibat dari pergerakan lempeng bumi (plate tectonic) yang menyebabkan keluarnya magma dari perut bumi. Magma inilah yang menjadi tungku alaminya. Sama seperti kita memasak air, ketika air mendidih akan menghasilkan uap. Disekitar gunung berapi, magma tetap ada dekat dengan permukaan, sehingga bisa dicapai dengan mengebornya. Tetapi dalam pengeboran geothermal, bukan magmanya yang dicari, tapi uapnya. Jadi cukup mengebor sampai kedalaman tertentu hingga mencapai area berongga tempat air dipanaskan.

Konsep pengeboran pada geothermal sangat berbeda dengan pengeboran minyak bumi. Pada minyak bumi, pengeboran dilakukan untuk mencari lapisan batuan yang mengandung minyak bumi, seperti lapisan batuan yang diibaratkan sponge yang berisi minyak. Pada geothermal justru mencari rongga-rongga (crack). Pada pengeboran minyak bumi, crack seperti ini justru dihindari, karena akan menyebabkan hilangnya Lumpur bor ke dalam formasi batuan. Ini dapat merusak formasi batuan sekitarnya. Jadi prinsip-prinsip dasar pengeboran pada minyak bumi tidak dapat diterapkan sepenuhnya pada pengeboran geothermal.

Geothermal

Bekerja pada lokasi geothermal sebenarnya sangat menyenangkan. Setiap hari saya bisa menghirup udara segar pegunungan, memandang pemandangan yang indah-indah seperti bukit dan lembah hijau di kejauhan, hijaunya hutan disekitar membuat sejuk mata memandang serta berbagai macam burung dan kicauannya yang merdu. Terkadang jika beruntung, saya bisa juga melihat sekumpulan monyet-monyet bergelantungan di dahan pohon. Menurut beberapa awak yang pernah melakukan pengeboran sumur jauh di dalam hutan, mereka pernah melihat harimau juga. Tapi sampai saat ini, saya belum pernah menyaksikan harimau seperti yang diceritakan awak pengeboran tersebut. Semua kesenangan itu bisa saya nikmati setiap hari jika saya bekerja shift siang. Jika bekerja malam hari, duka menghampiri. Mulai dari temperatur udara yang ampun dinginnya, satu lapis baju saja tak kan sanggup mengusir beku, ancaman binatang buas sampai makhluk halus yang selalu menemani. Just kidding.

Secara keseluruhan, lebih banyak hal-hal menyenangkan disini dari pada yang menyedihkan. Ada sekitar dua tempat pengeboran geothermal yang serupa saat ini. Satu lagi berada di Gunung Darajat sekitar Garut. Cukup lama juga saya bekerja di Gunung Darajat, sekitar enam bulan, yang kemudian akhirnya saya berkelana ke Laut Timor. Memang bisnis geothermal sekarang sedang menggeliat di beberapa tempat di Indonesia. Menurut rencana, ada beberapa lokasi yang akan dikembangkan potensi geothermalnya seperti di Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Tampomas, Gunung Bromo, dan lain-lain.

Ditulis dalam Journey, Rig Operational | 9 Komentar »

Profil Kota Pekanbaru

Ditulis oleh pr4s di/pada November 12, 2007

 

Masjid Agung PKU

Pekanbaru adalah ibukota Provinsi Riau yang terletak di tengah-tengah Pulau Sumatera. Sebagian besar hidup saya habiskan di kota ini. Di masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil bernama Payung Sekaki yang terletak di pinggiran Sungai Siak. Dusun sederhana itu kemudian dikenal juga dengan sebutan Dusun Senapelan. Desa ini berkembang pesat, terlebih setelah lokasi pasar (pekan) lama pindah keseberang pada tanggal 23 Juni 1784. Terciptalah pasar baru yang identik dengan sebutan “pekan baru”, nama yang hingga kini dipakai untuk emnyebut Kota Pekanbaru. Sejak dulu kegiatan perdagangan telah ramai di kota ini. Sungai Siak yang membelah kota menjadi jalur pelayaran strategis ke dan dari beberapa kota pantai di Provinsi Riau dan juga luar Riau. Sungai ini juga punya peran penting sebagai jalur perdagangan antar pulau dan juga ke luar negeri terutama Malaysia dan Singapura. Letak kota pun strategis, berada di simpul segi tiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura, dan di jalur lalu lintas angkutan lintas timur Sumatera.

 

Pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini sekitar tahun 1992, tahun pertama saya menduduki bangku SMP. Saya ingat sekali saat itu Pekanbaru masih sebesar kota kabupaten seperti di pulau jawa. Oh tidak, saya rasa lebih kecil dari itu. Kota itu dahulu Cuma terdiri dari satu jalan protocol, yaitu Jalan Jenderal Sudirman. Hanya ada beberapa gedung pemerintahan yang cuma berlantai dua. Pasar tradisional bisa dihitung dengan jari dan tentunya belum ada mall pada saat itu. Jalan-jalan masih lengang, hanya terlihat beberapa kendaraan saja yang melintas. Di pagi hari saya masih bisa menikmati kabut dan embun pagi yang sejuk dan segar. Ah ingin sekali saya kembali ke masa itu.

 

Tapi saat ini Pekanbaru telah berubah menjadi kota yang berkembang pesat. Saya rasa hanya dalam beberapa tahun kedepan, Pekanbaru akan menjelma menjadi kota metropolitan, tak kalah dengan kota Medan di Pulau Sumatera ini. Saya tidak mengira ketika mudik tahun ini, pembangunan di Pekanbaru begitu pesat. Ada beberapa proyek besar yang sedang dalam tahap pembangunan, diantaranya dua gedung besar bersebelahan yang teletak di tengah kota, cukup mencolok bagi siapa saja yang melihatnya. Gedung baru untuk kantor gubernur dan gedung perpustakaan daerah.

 

Bercerta tentang kedua gedung ini, saya jadi ingin berkomentar tentang salah satu monumen histories yang berada di sekitar gedung kantor gubernur ini. Sebut saja monumen pesawat tempur. Saya tidak tahu, apa nama sebenarnya dari monumen ini. Selama saya tinggal di Pekanbaru, tak pernah saya mendengar nama resmi dari monumen ini. Saya sering bertanya kepada beberapa kerabat yang telah lama tinggal di kota ini tentang nama resmi monumen itu. Tak satupun dari mereka memberikan jawaban yang memuaskan. Jawaban mereka hampir sama, yaitu monumen pesawat tempur.

 

Monumen ini terletak di tengah-tengah Jalan Jenderal Sudirman dan berada di depan kantor gubernur. Monumen ini sepertinya memang berasal dari pesawat tempur asli. Tapi saya tidak yakin, melihat ukurannya yang tak begitu besar untuk ukuran pesawat tempur yang sebenarnya. Menurut saya monumen ini tak menarik sama sekali. Tapi cukup memiliki nilai seni dan nilai sejarah. Monumen ini sudah ada sejak pertama kali saya menjejakkan kaki di Pekanbaru. Seingat saya, dahulu monumen pesawat ini berwarna metalik dan masih orisinil. Bagus seperti itu menurut saya. Tetapi sekarng, warnanya cukup menggelikan. Apakah ada pesawat tempur yang berwarna kuning? Ide siapa yang mewarnai pesawat itu dengan warna kuning? Saya rasa sebagian besar warga Pekanbaru sadar akan kejanggalan itu. Ini terlihat dari komentar beberapa kerabat saya yang tak bedanya dengan komentar saya. Setiap kami melintas di sekitar monumen itu, pastilah gelak tawa yang terdengar.

 

Pesawat

Terlepas dari semua controversial itu, monumen ini telah dinobatkan oleh warga sekitar sebagai mascot kota pekanbaru. Pernah dulu monumen ini hendak dipindahkan ke depan musium daerah. Tapi banyak warga yang tidak setuju dengan gagasan itu dan akhirnya niat itu diurungkan oleh pemda. Ternyata masih ada suara warga yang didengar. Saya juga setuju dengan itu semua melihat nilai-nilai sejarahnya baik monumen itu tetap berada seperti apa adanya.

 

Pembangunan yang begitu pesat di kota pekanbaru membuat nmaa kota ini mulai dikenal ramai. Lihat saja apa yang tertera di wikipedia, cukup membanggakan. Tak sengaja jga saya menemukan itu di wikipedia. Berikut ini cuplikan yang saya ambil dari wikipedia.

Ditulis dalam Journey | 8 Komentar »

Kualitas Pelayanan Angkutan

Ditulis oleh pr4s di/pada Oktober 28, 2007

Pada tanggal 11 october 2007, akhirnya saya pulang juga dari rig. Perjalanan menuju Jakarta lumayan lancar, walaupun mendapat sedikit penundaan di Singapore. Maskapai penerbangan icon negara saya ini sengaja menunda keberangkatan karena menunggu kedatangan pesawat dari London. Dari pembicaraan beberapa calon penumpang saya menyimpulkan bahwa sepertinya maskapai ini memiliki sedikit calon penumpang saat itu. Jadi mereka menunda sambil menunggu penumpang transit dari berbagai maskapai penerbangan yang hendak meneruskan penerbangan menuju Jakarta.

Tanggal 12 october pagi, lepas dari perjalanan dinas, saya menuju bandara sukarno-hatta untuk mudik. Kali ini saya menggunakan maskapai penerbangan paling ternama di Indonesia. Saya membeli tiket pesawat ini seharga 1.3 juta rupiah sekitar tiga minggu yang lalu, tujuan kota Pekanbaru. Tiket termahal yang pernah saya beli untuk penerbangan domestik. Saya sengaja datang lebih awal, sekitar dua jam lebih awal. Saya pikir dengan datang lebih awal, saya bisa bebas menentukan tempat duduk yang saya inginkan. Lagi pula lebih baik datang cepat dari pada terlambat, pikir saya.

Segera saya menuju counter check in di terminal 2F. Petugas counter menyambut saya dengan senyum manisnya. Kemudian saya menyapanya, “Selamat pagi mbak, saya minta tempat duduk pinggir jendela, bisa mbak?” Petugas counter menjawab “bisa”. Saya merasa senang sekali dan menyodorkan uang 30.000 rupiah untuk air tax. Setelah itu saya bergegas menuju ruang tunggu boarding.

Lebih kurang 30 menit saya menunggu, akhirnya sampai juga waktu boarding. Dengan bersemangat saya menuju nomor tempat duduk yang tertera pada boarding pass saya. Tapi kemudian, saya tertegun sesaat dan memeriksa kembali nomor tempat duduk yang ada pada boarding pass saya. Tak ada yang salah, tapi mengapa di tempat itu sudah ada orang yang duduk. Saya tanyakan hal itu dengan si pramugari sambil menyodorkan boarding pass saya “Mbak tempat duduk saya nomor ini benar tidak?” Si pramugari melihat boarding pass saya dan kemudian memeriksa tempat duduk yang saya maksud “Oh maaf pak, sudah ada yang duduk disitu, bapak bisa pindah ke tempat lain, disini saja ya pak.”

What the hell….. Ada apa dengan maskapai penerbangan ini? Namanya begitu tersohor sampai ke mancanegara, tapi untuk mengurus nomor tempat duduk saja tidak becus? Saya tak tau pasti apa yang telah terjadi. Di tempat duduk yang seharusnya buat saya itu sudah duduk lebih dulu serombongan orang. Mereka dengan acuhnya mengabaikan saya yang sedang kebingungan seolah tak terjadi apa-apa. Ini juga yang membuat saya kesal, kalau memang ingin duduk berdekatan dengan rombongannya, mereka itu bisa meminta izin dengan saya untuk merubah tempat duduk. Meminta maaf atau basa-basi atau apalah, jadi tidak kelihatan kampungan begitu. Bikin kesal saja. Mana lagi ditambah dengan posisi tempat duduk yang baru tidak senyaman yang saya harapkan. Saya duduk bersama dengan penumpang lain yang terakhir check in sehingga ia terpaksa duduk terpisah dengan rombongannya. Ah apalah gunanya saya datang lebih awal dan meminta tempat duduk yang saya inginkan jika akhirnya malah seperti ini.

Tak baik saya dongkol begini, ini puasa hari terakhir pikir saya. Sesampainya di Pekanbaru saya segera mengambil barang dan menuju counter taxi. Saya ingat setahun yang lalu bagaimana pelayanan taxi disini cukup baik. Cukup mendaftar dan menyebutkan tempat tujuan. Petugas counter akan melihat daftar harga berdasarkan tempat tujuan dan saya diminta untuk membayar pada saat itu. Jadi sesampainya di tempat tujuan, saya tidak perlu membayar lagi. Baik dan efektif pikir saya.

Tetapi ternyata saya salah besar. Sesampainya di tempat counter taxi, saya menyebutkan tempat tujuan dan saya diminta membayar 10000 ribu rupiah sama seperti pada bandara sukarno-hatta. Ternyata system yang berlaku tahun lalu telah berubah. Kemudian saya diberi tiket dan diantar oleh supir taxi yang akan mengantarkan saya. Pada tiket tertera harga yang harus saya bayar nanti sebesar jumlah argo plus 10000 rupiah. Setelah taxi melaju baru saya sadari bahwa ternyata taxi yang saya tumpangi itu tidak berargo. Disini kecurangan bakal terjadi, pikir saya. Kenapa system yang baik tahun lalu bisa berubah seperti ini? Apabila begitu, supir taxi bisa seenaknya saja menetapkan harga dan tidak ada transparansi mengenai harga. Kenapa perusahaan taxi ini tidak memegang komitmen sesuai dengan apa yang tertera pada tiket? Mereka sendiri yang membuat system tiket seperti itu, tapi kenyataan sebenarnya tidak demikian. Jangankan menjalankan argo, argo-nya pun tak ada. Hebat sekali. Saya dengar juga perusahaan taxi ini melakukan praktek monopoli dimana perusahaan taxi lain tidak bisa mengambil penumpang dari bandara.

Sesampainya di tempat tujuan, saya membayar sesuai dengan permintaan si supir. Saya tidak tau apakah ongkos yang saya bayarkan itu sesuai atau tidak. Saya hanya bisa mengelus dada setelah saudara saya mengatakan bahwa saya membayar terlalu mahal dari harga seharusnya. Benar saja, memang si supir sudah seenaknya saja menetapkan harga. Saya ingin menuntut juga sulit, tak ada argo dan ah sudahlah.

Apakah memang seperti ini pelayanan angkutan yang ada di negara kita ini? Perusahaan ternama saja belum mampu menyuguhkan pelayanan yang baik. Apalagi perusahaan kecil tak ternama dan di daerah pula. Perusahaan besar seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi perusahaan kecil, bukan sebaliknya. Apakah karena tidak adanya perusahaan tandingan sehingga perusahaan tersebut bisa berbuat seenaknya saja? Jika demikian kapan majunya ya?

Ditulis dalam Journey | 6 Komentar »

Menggugah Selera atau Bikin Muntah Hooeekk

Ditulis oleh pr4s di/pada September 30, 2007

Food

Sudah menjadi kebutuhan setiap makhluk hidup di bumi ini untuk mengkonsumsi zat-zat yang dibutuhkan tubuhnya. Dalam arti kata makan untuk melangsungkan kehidupan di bumi. Manusia punya prinsip makan untuk hidup bukan hidup untuk makan kaya kambing. Manusia khususnya mempunyai kebutuhan makan minimal tiga kali sehari. Kata ahli kesehatan dan gizi, makan tiga kali sehari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Jika kurang atau lebih dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan berbagai komplikasi (berdasarkan fakta yang ada). Saya tidak akan berpanjang lebar menjabarkan dampak dari kegiatan makan ini, karena itu bukan topik yang akan saya bahas.

Bicara masalah selera makan, saya punya cerita menarik seputar kegiatan makan memakan ini. Seperti bisa, setiap hari kami makan di warung rig, bahasa kerennya galley tiga kali sehari. Tapi karena ini masih bulan ramadhan, khusus muslim cuma makan sehari dua kali, sahur sebelum matahari terbit dan buka pada saat matahari terbenam. Model warung disini semi self service ala prasmanan. Tidak semua makanan bisa diambil sendiri. Ada beberapa makanan yang diambilakn oleh petugas catering. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Journey | 10 Komentar »

Masih Adakah Jiwa Besar diantara Kita ?

Ditulis oleh pr4s di/pada September 29, 2007

Fairus

Tak sengaja, malam itu saya sengaja berselancar di dunia maya mencari sesuatu untuk pencerahan sambil sesekali melihat siapa saja yang sedang online di Yahoo Messenger. Saya masih berada di rig site saat itu. Asyik berselancar di google, tiba-tiba muncul pop up kecil di sudut kanan bawah layar komputer saya sebuah tanda yang memberitahukan bahwa salah seorang kenalan saya sedang online. Oh ternyata sahabat saya yang sedang berlibur, ikut online.

Sahabat saya biasa dipanggil Fairus. Kami bekerja pada perusahaan yang sama. Kebetulan dia sedang libur di Jakarta. Tapi hari liburnya ini tidaklah bisa digunakan 100% untuk berlibur. Perusahaan saya telah memberikan tugas belajar kepada sahabat saya ini ke Negeri Singa selama dua minggu. Sepertinya dia senang sekali berada di negeri itu. Ya saya juga tau, negeri itu memang menyenangkan. Tata kota yang rapi dan teratur, masyarakat yang berdisiplin, tak ada macet, cuaca yang ramah dan tak ada polusi. Negeri ini memang menjadi daya tarik wisata bagi orang-orang yang berada di negara-negara asia tenggara. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Journey, Rig Operational | 7 Komentar »

MUDIK – LEBARAN

Ditulis oleh pr4s di/pada September 26, 2007

Koper

Lebaran merupakan hari kemenangan umat muslim sedunia setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Hari keramat ini sudah ada sejak jaman nabi dulu hingga sekarang. Pada hari lebaran, seluruh umat bersuka cita menyambut hari tanda kemenangan menahan nafsu selama sebulan penuh. Perkembangan selanjutnya, lebaran menjadi suatu tradisi di sebagian etnis dunia.

Tradisi-tradisi ini sangat beragam di setiap etnis yang berbeda. Khusus di Indonesia, salah satu tradisi ini adalah mudik. Mudik jadi suatu tradisi setiap tahun menjelang lebaran. Sebagian umat yang merayakan lebaran akan pulang ke kampung halaman menemui orang tua, sanak saudara dan handai taulan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Islam, Journey | 1 Komentar »

FIRE DRILL

Ditulis oleh pr4s di/pada September 23, 2007

Lifevest

Sebagai salah satu standard prosedure keselamatan, disetiap tempat kerja yang memiliki resiko tinggi biasanya memiliki latihan-latihan terhadap kebencanaan baik yang terjadi karena ulah manusia ataupun karena alam. Contoh latihan atau bahasa kerennya disebut drill seperti Fire Drill (Latihan Kebaran), Abandon Drill (Latihan Meninggalkan Kapal), H2S Drill (latiha keselamatan terhadap Gas Hidrogen Sulfida), dan lain-lain. Biasanya latihan seperti ini rutin dilakukan minimal sekali dalam seminggu. Cape ya. Yah mau bagaimana lagi, hal seperti ini memang tidak bisa disepelekan karena bahaya tidak pernah tidur. Bahaya bisa mengancam keselamatan kapan saja dan pada siapa saja.
Pagi ini pukul 10:30 aku tersentak terbangun kaget oleh alarm kencang menderu-deru memekakkan telinga. Suara-suara alarm itu diselingin dengan suara seseorang yang berbicara melalui pengeras suara.
“Attention on the rig, attention on the rig, this is a drill, this is a drill. All personel must go to the lifeboat. All personel must go to the lifeboat.” Fire on the laundry room, Don’t pass through loundry room. Fire on the laundry room, Don’t pass through laundry room.”
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Journey | Leave a Comment »

KETIKA JAUH DARI RUMAH

Ditulis oleh pr4s di/pada September 21, 2007

Heli DeckApa yang akan kita lakukan jika berada jauh dari rumah dalam waktu yang lama? Hal-hal semacam ini tak akan terfikirkan sebelumnya jika kita belum merasakan langsung. Mungkin kita akan berencana untuk melakukan sesuatu yang bisa kita persiapkan sebelum meninggalkan rumah. Tapi bagaimana jika kondisi sebenarnya tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya?

Sudah seminggu lebih saya berada di Laut Lepas in, bekerja untuk masa depan. Pukul 10 pagi alarm berdering, suaranya membangunkan saya dari mimpi indah. Rasanya tidur belum cukup sejak semalam. Saya harus bergegas dan bersemangat bangkit, mengumpulkan nyawa sejenak dan langsung menuju kamar mandi. Sulit juga turun dari dipan tingkat dua begini. Kamar saya terdiri dari dua dipan tingkat yang bisa ditiduri oleh dua orang tiap dipannya. Dua teman sejawat saya sedang bertugas, jadi dipannya kosong. Seorang lagi sedang membersihkan diri di kamar mandi. Kamar mandi disini tidaklah seindah dirumah. Semua jadi satu berkumpul mandi bersama. Saya segera menuju bilik kecil disudut ruangan hendak melepas hajat, tuntutan alam. Hanya mengenakan handuk dibadan dan peralatan mandi, selepas membuang hajat, saya berkaca di wastafel sambil menggosok gigi. Duh wajah saya kusut sekali. Tak apalah, setelah mandi toh akan segar kembali. Shower-shower dibelakang saya mendesis menandakan ramai orang sedang mandi. Selesai menggosok gigi, saya bergegas ke shower bergabung dengan yang lain. Saya putar tuas shower pelan-pelan. Saya pilih air yang hangat. Ah nikmat sekali rasanya. Sengaja saya berlama-lama menikmati hangatnya air shower. Beberapa orang asyik ngobrol sambil mandi. Ah mereka berisik sekali. Saya tak peduli dengan mereka dan terus menggosok tubuh dengan sabun. Hampir setengah jam saya mandi. Cukup lama juga. Keluar dari kamar mandi, saya sudah merasa segar siap tempur. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Journey | 5 Komentar »