Semalam atau kemarin saya benar-benar mengalami hari penuh dengan peristiwa menarik. Apakah ini ada hubungannya dengan hal spiritual atau hanya peristiwa biasa saja, saya tidak tau. Saya hanya akan bercerita apa yang saya alami ini. Pembaca sekalian yang akan menilai ada apa sebenarnya.
Pagi itu indah sekali. Tak sengaja saya mendapati langit begitu indah. Matahari terbit di ufuk timur bersinar lembut kemerahan. Tak ada objek apapun yang menghalanginya muncul diatas horizon, hanya air laut saja yang tampak. Subhanallah indah sekali. Pagi itu juga laut serasa hening, senyap dan tenang. Tak ada angin dan ombak. Riak air laut tenang sekali, tak seperti biasanya ganas menggelora. Biru, begitu birunya seakan hendak memberitahukan kepada siapa saja bahwa ia sangatlah dalam penuh dengan misteri. Awan pun tak tampak menebal, tipis menghiasi langit pagi biru bersemu merah. Ada apakah gerangan? Apakah ini yang dinamakan tanda-tanda turunnya Lailatul Qadar? Semalam, oh subhanallah. Apa yang telah kuperbuat semalam? Tak ada.
Mengutip dari beberapa blog yang membahas tentang Lailatul Qadar, disni, disini dan disini. Bahwa kemunculan Lailatul Qadar adalah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan dan seperti hadist berikut :
“Pada malam Laylatul Qadar itu tidak panas & tidak dingin, tidak
berawan dan tidak hujan dan tidak berangin, tidak juga terang dg bintang2,
tanda di pagi harinya adalah Matahari terbit bercahaya lembut.” (HR
As-Suyuthi dlm Jami’ Shaghir, di-shahih-kan oleh Albani dlm Shahihul Jami’,
XX/175, no. 9603)
Memang sejak semalam hingga pagi ini saya merasakan hening sekali. Tak panas dan tak dingin, tak ada angin dan tak ada ombak. Hanya hening, hening, hening. Ah alangkah meruginya, semalam tidak melakukan apa-apa selain bekerja. Jika memang benar semalam Lailatul Qadar turun, pasti sangatlah banyak rahmat dan berkat dan beribu kebaikan. Ah sudahlah, belum jodoh kali. Semua itu rahasia Allah, belum tentu juga malam itu Lailatul Qadar turun, bisa jadi besok atau kapan. Tak ada manusia yang tau.
Saya merasa tak ingin melewatkan moment indah dipagi itu. Saya ambil kamera handphone saya untuk mengabadikan pagi itu. Inilah hasil jepretannya. Bandingkan dengan foto sunrise di hari lain pada foto di bagian akhir post ini.
Setelah matahari jauh terbit, penyiksaan dimulai. Kebetulan saya kebagian untuk mengurus sample core pada saat itu. Dari pagi sampai tengah hari saya sibuk mengurusi sample ini. Dari memberi label sampai mengangkat core tube yang minta ampun beratnya. Mana lagi matahari bersinar terik siang itu. Dalam kesempatan lain saya sempatkan untuk melihat suasana laut saat itu. Yah laut masih tenang, langitpun cerah tak berawan. Saya melihat banyak sekali ikan-ikan yang mempir ke permukaan menyongsong cerahnya sinar matahari. Tak seperti biasanya, saya membatin.

Jernih air laut ditimpa sinar matahari dan arusnya yang tenang membuat saya bisa melihat beberapa meter kedalaman laut itu. Subhanallah, indah sekali ikan-ikan itu. Saya coba mengabadikannya, tapi ternyata kamera saya tidak cukup professional untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus. Coba liaht baik-baik, kelihatan tidak ikannya?
Jam 12 siang menjelang, bersamaan dengan usainya pekerjaan saya mengurusi core. Oh ya, core adalah contoh sample batuan yang berbentuk silinder yang diambil dari dalam sumur pada kedalaman tertentu. Bisa bermeter-meter panjangnya. Untuk memudahkan pengangkatan, core ini dipotong-potong satu meter satu meter. Benar-benar berasa puasa hari itu, kerja berat plus dijemur dibawah terik sinar matahari. Lengkap sudah penderitaan.
Dua hari lagi saya akan meninggalkan tempat ini untuk berkumpul dengan sanak keluarga yang telah menanti jauh disana. Ah tak sabar rasanya ingin pulang. Tapi aneh, ketika hendak pulang, timbul rasa sayang pada tempat ini. Bergaul selama sebulan dengan orang-orang disini telah menumbuhkan rasa kekeluargaan. Saya merasa mereka juga saudara-saudara saya. Tak apalah, jika umur panjang, kita akan bertemu kembali, bekerja dan bercanda bersama. Sampai jumpa lagi sobat.