Bekerja Dengan Ikhlas
Ditulis oleh pr4s di/pada Mei 29, 2008
Apakah diantara kita semua telah mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Apakah kita menikmati pekerjaan kita masing-masing? Apakah upah yang kita terima dari hasil bekerja selama ini memuaskan dahaga? Apakah kesenjangan upah yang kita terima selama ini membuat kita saling iri? Bak kata pepatah, rumput tetangga selalu lebih hijau. Lalu, pantaskah kita meminta dari tetangga?
Baru kali ini selama saya bekerja di dunia rig peristiwa ini begitu frontal terjadi didepan mata saya, bahkan saya mengalaminya sendiri. Selama ini saya tidak pernah mendapati apa yang namanya kolusi di tempat kerja. Kolusi dari rekan kerja yang nota bene beda perusahaan. Saya dipaksa berkolusi, eh sepertinya lebih tepat disebut dikompas di tempat kerja. Memang, bekerja di rig terdiri dari berbagai macam perusahaan dengan spesialisasinya masing-masing. Walaupun berbeda perusahaan, semua bekerja sebagai team work yang tak lepas dari Jobdes-nya masing-masing. Dari situ para pekerja mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaannya dari perusahaan masing-masing. Dan proses pengeboran akan berjalan dengan lancar sampai mendapatkan hasil yang diinginkan.
Tetapi kenyataannya tidak selalu mulus seperti itu. Diantara pekerja itu ingin mengambil keuntungan dari rekan kerjanya yang ber-upah “lebih”. Saya tidak mengerti mengapa hal seperti ini harus terjadi. Apakah karena kebutuhan hidup yang semakin mahal saat ini? Ataukah karena kesenjangan upah yang begitu lebar? Ataukah budaya perusahaan negara yang sudah mendarah daging sejak zaman doeloe? Entahlah…..
Dengan sangat terang-terangan mereka “meminta” untuk kelancaran pekerjaan kami. Awalnya saya tak ingin terbawa permainan itu, karena memang hati nurani saya tak setuju. Tapi karena didesak oleh waktu dan saya pun tak bisa bekerja tanpa jasa mereka dengan terpaksa peristiwa pengkompasan idealisme saya terjadi. Hati saya menangis setelahnya. Apakah hanya seperti itu mental bangsa Indonesia? Saya berharap hal semacam ini takkan terjadi lagi.
Saya bersyukur ternyata “ini” merupakan kontrak terakhir jasa saya dibutuhkan di proyek itu…
Dari peristiwa itu, satu pertanyaan besar muncul dikepala saya. Saya harap pembaca sekalian bisa bertanya pada hati nurani masing-masing dan menjawab pertanyaan sederhana ini ; Apakah sulit bekerja dengan ikhlas ?










Yari NK berkata
Masalahnya mungkin tidak sesederhana itu. Dari contoh di atas yang saya tangkap, mereka meminta sejumlah “pelicin” untuk mulai bekerja karena jikalau mereka tidak bekerja maka pekerjaan anda tidak bisa dimulai atau diselesaikan dengan baik. Itu yang saya tangkap dari cerita mas pr4s di atas.
Masalahnya kita bekerja dalam sebuah sistem yang kompleks dan luas, yang biasanya kita tidak bisa mengatur semuanya seperti kehendak kita. Jikalau orang yang “meminta” (yang seperti mas pr4s ceritakan) tersebut mengerjakan pekerjaan sehari2nya dengan “meminta” terlebih dahulu, itu merupakan sebuah kehinaan yang luar biasa, karena untuk mengerjakan pekerjaan rutin mereka saja, mereka harus “meminta” (entah itu kesalahan manajemen atau siapa, saya tak berhak menilai karena saya tidak melihat sistemnya secara keseluruhan). Mungkin masalah moralitasnya sedikit berbeda jikalau misalnya mereka sudah bekerja dengan baik tugas rutinnya, tapi mas pr4s dan kawan2nya mendesak mereka supaya bekerja lebih cepat atau lebih awal atau lebih lama dan lain-lain dari biasanya tentu masalah moralitasnya jadi sedikit berbeda dalam kasus seperti ini.
Tapi bagaimanapun juga terkadang idealisme tidak selalu dapat dipertahankan, apalagi kalau itu demi kelancaran sebuah sistem yang besar dan kita hanya mampu mengendalikan di sebuah subsistem yang kecil saja. Orang2 luar negeri yang tidak biasa berhadapan dengan sistem yang “korup” juga tidak banyak yang terpaksa harus mengikuti kemauan sistem sebuah negara yang korup (seperti di negara kita ini??), itu semua demi kelancaran dan kebaikan semua yang sudah terlanjur terlibat dalam sistem tersebut. Mau tidak mau mereka terpaksa mengikuti sistem yang korup tersebut karena mereka tidak kuasa mengendalikannya…..
Yang penting adalah jikalau mas pr4s berada di posisi orang yang “meminta” tadi, mas pr4s tidak akan berbuat serupa. Memang benar jikalau kita bisa menghindar dari sistem yang korup tersebut tentu kita wajib untuk menghindarinya, tetapi jikalau kita tidak mampu mengendalikannya, ya apa boleh buat, demi kelancaran sebuah sistem dan demi kepentingan yang lebih besar lagi, dam juga demi menghindari kerugian yang lebih besar lagi, mas pr4s harus siap menjadi “korban” dari sistem yang korup tersebut. Di sini mas pr4s adalah sebagai “korban” dan tentu bukan sebagai “pelaku” sistem yang korup tersebut.
Bagaimana sekarang dengan keikhlasan?? Ya sudah…. belajar jalani segalanya dengan ikhlas….. kalau mas pr4s marah dan tidak ikhlas, maka mas pr4s akan rugi dua kali. Sudah “diperas”, bekerja tidak ikhlas pula. Jikalau mas pr4s belajar bekerja dengan ikhlas, mungkin kerugian mas pr4s hanya satu kali yaitu “diperas”nya saja, namun pekerjaan mas pr4s tetap suatu berkah karena mas pr4s bekerja dengan ikhlas…..
Dunia ini memang tidak selalu menurut dengan apa yang kita inginkan. Ini terjadi pada setiap orang, kapanpun dan di manapun, dari tempat mas pr4 bekerja hingga sopir taksi yang tak ingin pakai argo, ini menunjukkan sistem yang “korup” ada di mana2…….
Yari NK berkata
Ralat sedikit:
Tertulis:
“Orang2 luar negeri yang tidak biasa berhadapan dengan sistem yang “korup” juga tidak banyak yang terpaksa….”
seharusnya:
“Orang2 luar negeri yang tidak biasa berhadapan dengan sistem yang “korup” juga banyak yang terpaksa…..”
hadi arr berkata
wah, mas Pras, ternyata memendam banyak kegalauan selama bekerja di tempat ini, semoga ke depannya akan lebih baik. good luck mas Pras
Andhi Kusdrianto berkata
Bagi saya, bekerja adalah berkarya. Di manapun saya bekerja, saya harus membuat karya nyata. Kalau tidak, ya berarti bukan/belum disebut bekerja. Salam Mas… Gmn kabar?
Pekanbaru! Riau berkata
maunya saya yah ikhlaslah, biar capek kerjanya tapi berpahala..
erander berkata
Sorry pras, abang baru mampir kesini .. setelah sebulan lebih jarang blogwalking karena kesibukan kerja.
Suprise membaca pengalaman kerja Pras di rig. Karena selama ini, abang berpandangan bahwa orang² yang bekerja di rig adalah orang² yang sudah berpenghasilan cukup — tidak kurang dan tidak berkelebihan.
Beda dengan di birokrasi pemerintah. Kemaren abang ngurus surat pindah dan pembuatan KK saja, setelah dihitung² nilainya sangat tidak wajar. Tapi mau gimana lagi. Padahal abang mengikuti semua prosedurnya. Malah lama dan mahal. Tapi sudahlah !!
Selain ikhlas, jika juga harus percaya dengan yang namanya rejeki. Karena sering kali, uang yang ada ditangan bisa terbang dalam sekejap, misalnya tiba² ada keluarga yang sakit minta dikirimi uang atau ada yang ngompas seperti kejadian Pras dan sebagainya.
Karena rejeki datangnya dari Allah .. ikhlaskan uang itu. Insya Allah, Dia akan menggantinya. Abang banyak pengalaman seperti itu. Ketika abang ikhlaskan untuk ‘rela dikompas’ .. justru pekerjaan abang selesai tepat waktu dan diberikan bonus. Sebaliknya orang yang ‘mengkompas’ itu malah dapat musibah.
Jadi .. jangan kawatir Pras. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Ikhlas kan dan percayalah .. rejeki tidak akan kemana²
.. jadi tetap semangat ya Pras.
Sir Arthur Moerz berkata
nilai ibadahnya dapet puasnya dapet kalo ikhlas…
Febra berkata
setuju..kerja itu harus ikhlas
Pekanbaru! Riau berkata
kalo nggak salah Pilkada september ini.. ya otomatis banyak dong bang, mereka kan takut kalah (rugi, banyak biaya..)
Pekanbaru! Riau berkata
selamat berpuasa bang…
Jefri Widodo berkata
Bro..mayoritas orang rig kerjanya “under pressure”,jadi mungkin ikhlas atau kerelaan masih jauh dari pribadi masing2 individu.saya pribadi pun kurang senang kalo ada suatu kru ( apalagi beda uniform )kerja bersama di dalam tim dan ” dikompas ” agar kerjanya lancar.sabar aja bro,saya pernah baca majalah HIDAYAH bahwa… ikhlas,kunci bertemu ALLAH SWT
Setia berkata
Numpang lewat…
Kayanya saat ini sulit untuk mengartikan “ikhlas” yang sesungguhnya. Sebab jujur aja, selama ini kita dijejali budaya barat yang mau tidak mau sudah menjadi darah daging kita. Kita minum coca-cola makan di McD nyantai di Starbuck naik BMW tidur di springbad nonton TV sonny pake hp Nokia, etc. Saat ini arti “ikhlas” dalam bekerja berarti “seberapa besar upah atau keuntungan materi yang akan kita peroleh …”
Mudah2 kita tidak terlalu terjerumus dalam “keikhlasan yang semu”
elmamasy berkata
Mgkn yg mmbuat bingung : klo ngasih duit brarti ikut korup dong, mmbantu mnyuburkan korup. Setahu saya ini jelas ga boleh. Dosa. Jadi…beranikan diri utk tdk mmberi, tetap pd prosedur walopun risikonya tugas trlambat jadi ato hasilnya jelek ato risiko dipecat. Ikhlasnya bekerja ya disini skaligus ikhlas menegakkan kbenaran. InsyaAlloh dapat gantinya dr Alloh Azza wa Jalla. Jgn saling menolong dlm maksiat. Jadilah seorang mukmin yg kuat krn itu lbh dicintai Alloh. Jgn kalah ama pengompas walopun memang berat kl sendirian. Eh, si Pras ini agamanya Islam to? Kl bukan ya maaf.