Apakah diantara kita semua telah mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Apakah kita menikmati pekerjaan kita masing-masing? Apakah upah yang kita terima dari hasil bekerja selama ini memuaskan dahaga? Apakah kesenjangan upah yang kita terima selama ini membuat kita saling iri? Bak kata pepatah, rumput tetangga selalu lebih hijau. Lalu, pantaskah kita meminta dari tetangga?
Baru kali ini selama saya bekerja di dunia rig peristiwa ini begitu frontal terjadi didepan mata saya, bahkan saya mengalaminya sendiri. Selama ini saya tidak pernah mendapati apa yang namanya kolusi di tempat kerja. Kolusi dari rekan kerja yang nota bene beda perusahaan. Saya dipaksa berkolusi, eh sepertinya lebih tepat disebut dikompas di tempat kerja. Memang, bekerja di rig terdiri dari berbagai macam perusahaan dengan spesialisasinya masing-masing. Walaupun berbeda perusahaan, semua bekerja sebagai team work yang tak lepas dari Jobdes-nya masing-masing. Dari situ para pekerja mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaannya dari perusahaan masing-masing. Dan proses pengeboran akan berjalan dengan lancar sampai mendapatkan hasil yang diinginkan.
Tetapi kenyataannya tidak selalu mulus seperti itu. Diantara pekerja itu ingin mengambil keuntungan dari rekan kerjanya yang ber-upah “lebih”. Saya tidak mengerti mengapa hal seperti ini harus terjadi. Apakah karena kebutuhan hidup yang semakin mahal saat ini? Ataukah karena kesenjangan upah yang begitu lebar? Ataukah budaya perusahaan negara yang sudah mendarah daging sejak zaman doeloe? Entahlah…..
Dengan sangat terang-terangan mereka “meminta” untuk kelancaran pekerjaan kami. Awalnya saya tak ingin terbawa permainan itu, karena memang hati nurani saya tak setuju. Tapi karena didesak oleh waktu dan saya pun tak bisa bekerja tanpa jasa mereka dengan terpaksa peristiwa pengkompasan idealisme saya terjadi. Hati saya menangis setelahnya. Apakah hanya seperti itu mental bangsa Indonesia? Saya berharap hal semacam ini takkan terjadi lagi.
Saya bersyukur ternyata “ini” merupakan kontrak terakhir jasa saya dibutuhkan di proyek itu…
Dari peristiwa itu, satu pertanyaan besar muncul dikepala saya. Saya harap pembaca sekalian bisa bertanya pada hati nurani masing-masing dan menjawab pertanyaan sederhana ini ; Apakah sulit bekerja dengan ikhlas ?









