Arsip untuk Desember, 2007
SELAMAT TAHUN BARU 2008
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 31, 2007
Ditulis dalam Gado-Gado | 8 Komentar »
PLATE TECTONIC
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 31, 2007

Sebelum membaca artikel tentang plate tektonik ini ada sebaiknya membaca terlebih dahulu dua artikel saya sebelumnya yaitu Struktur Bumi dan Sial dan Sima. Pada Struktur bumi terdapat penjelasan tentang bagian-bagian bumi dan proses yang menyertainya. Sedangkan dalam Sial dan Sima terdapat penjelasan tentang komposisi lapisan Sial dan Sima serta hubungannya dengan pergerakan lempeng.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Lithosphere adalah sebuah lapisan padat yang berada pada bagian luar kerak bumi. Lithosphere sendiri merupakan “plate/lempeng” dari pada Plate Tectonic Theory. Asthenosphere merupakan bagian dari mantel yang mengalir, mempunyai karakteristik yang disebut sifat plastis. Memang sedikit aneh sebuah material solid bisa mengalir. Sebagai contoh material solid yang mengalir adalah seperti pergerakan pasta gigi dari tabungnya. Pergerakan dari lapisan Asthenosphere merupakan bagian dari pergerakan konveksi mantel yang berperan penting dalam pergerkaan lempeng lithosphere.
Menurut teori, permukaan bumi terbagi menjadi beberapa lempeng besar. Ukuran dan posisi lempen-lempeng ini berubah setiap saat. Batas dari lempeng-lempeng ini dimana mereka bergerak saling menjauh atau mendekat merupakan pusat dari aktivitas geologi seperti gempa bumi, gunung berapi, dan pembentukan gunung. Plate tectonic merupakn teori kombinasi antara continental drift dan sea-floor spreading. Continental drift adalah pergerakan lempeng kontinen dibawah permukaan bumi dan perubahan posisinya cukup relatif. Sea-floor spreading adalah pembentukan oceanic crust baru pada mid-ocean ridge dan pergerakannya menjauh dari mid-ocean ridge.
Radioaktif merupakan sumber panas di dalam mantel, asthenosphere cair bersirkulasi secara konveksi dibawah lithosphere solid. Lapisan panas ini menjadi sumber lava yang bisa kita lihat pada gunung berapi, panas yang menyebabkan munculnya sumber air panas dan geyser, dan sumber dari material-material kasar yang mengangkat mid-oceanic ridge dan membentuk ocean floor baru. Magma terus mengalir keluar pada mid-oceanic ridge memproduksi aliran magma pada arah yang berlawanan sehingga menimbulkan kekuatan yang mendorong sea floor menjauh pada mid-oceanic ridge.
Setelah ocean floor pecah, celah akan muncul ditengah-tengah ridge sehingga magma cair keluar ke permukaan membentuk ocean floor baru. Ocean floor akan bergerak menjauhi mid-ocean ridge dan akan bertubrukan dengan lempeng kontinen kemudian tersubduksi kebawah kontinen. Akhirnya, lithosphere akan kembali ke asthenosphere dan kembali mencair.
Ciri-ciri utama plate tectonic (tektonik lempeng) :
- Permukaan bumi diselimuti oleh beberapa seri lempeng yang saling bertubrukan.
- Ocean floor selalu bergerak, menjauh dari pusatnya, menyusup pada ujung tumbukan dan ter-generasi.
- Arus konveksi dibawah lempeng menggerakkan lempeng-lempeng ke segala arah.
- Sumber dari panas yang menyebabkan arus konveksi adalah radioaktif (Uranium, Thorium dan Potasium) yang berasal dari mantel bumi.
To be continued……..
Ditulis dalam Earth Science | 7 Komentar »
Qurban
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 20, 2007

Tak terdengar takbir disini.
Tak ada Hewan kurban disini.
Semua sibuk bekerja mencari nafkah.
Apakah mereka sengaja atau terpaksa?
Pagi ini saya tidak bisa ikut melaksanakan sholat idul adha dikarenakan sedang bertugas. Sedih rasanya.
Awalnya saya tidak mengira akan diadakannya sholat ied di tempat ini. Lihat saja tempat ini, penuh dengan mesin-mesin dan sedikit ruang terbuka. Tapi akhirnya saya salut juga karena ternyata ada orang yang bisa mengusahakan tempat dan izin sehingga bisa terlaksananya sholat ied. Tempat dilaksanakannya sholat itu berada di bagian Heli pad (Landasan Helikopter). Ya, tempat ini memang cukup luas menampung jamaah.
Saya tidak tau persis apa yang terjadi di Heli pad pada saat sholat ied berlangsung, karena saya tak hadir. Sungguh sayang sekali…… Mereka yang sedang off-duty jelas bisa menghadiri dan melaksanakan hajat tersebut. Sholat ied dilaksanakan cukup singkat, mungkin sekitar 30 menit saja. Ada kotbah atau tidak, saya tak tau. Tetapi kalau dilihat dari foto dibawah, sepertinya ada kotbah dadakan.
Aneh sekali, saya tidak mendengar kumandang takbir sama sekali. Apa karena tempat saya bekerja saat itu, berada di dekat mesin yang bising sampai2 tidak mendengarnya atau memang sengaja tidak dikumandangkan? Hewan kurban-pun tak tampak sama sekali. Di tempat seperti ini mustahil membawa hewan kurban dan menyembelihnya.
Saya tidak bisa merasakan suasana Lebaran Idul Adha sama sekali disini. Hanya bisa membayangkan sanak saudara dan handai taulan nun jauh disana.

Ditulis dalam Gado-Gado, Islam | 14 Komentar »
Maju Terus
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 17, 2007
Apakah aku selama ini sudah bersyukur? Apakah aku selama ini sudah merasa cukup? Sudahkah selama ini semua kebutuhanku terpenuhi? Jawabanku selalu berada diantaranya. Terkadang “ya” dan terkadang”tidak”. Pertanyaan-pertanyaan itu tak terfikirkan olehku di masa silam, dimasa kanak-kanakku dimana segala kesenangan dan kesedihan bercampur tanpa sedikitpun aku mengeluh.
Diusiaku ini, usia dimana status dan keberadaanku diantara kata “ya” dan “tidak”, aku diambang peralihan. Apakah aku harus bergerak ke kiri atau ke kanan, maju atau mundur.
Masih lekang di dalam ingatanku ketika aku kecil dan terkucil. Aku si pras yang pemalu dan pesimis selalu menjadi bulan-bulanan anak seusiaku. Dicemooh dan dihina, dijauhi dan dijahili. Tapi, ALLAH maha adil, pras yang terkucilkan tetap punya teman, teman senasib yang selalu mengisi hari-hariku dalam suka dan duka. Si Dedi kecil yang mengajariku memancing dan bermain layang-layang. Mengadunya dengan anak kampung sebelah, yang kalah layangannya putus, kami pun berlari-lari penuh semangat mengejar layang-layang jatuh – sampai dikira maling dan dikejar anjing.
Si Gembong kecil yang banyak mengajariku untuk mejadi anak tangguh. Mengajariku berenang di sungai, membuat dan memelihara sarang burung merpati, mencangkul di sawah dan menanam padi, mengajariku angon kambing dan kerbau. Gembong tak pernah mengeluh dengan segala kelemahanku, dia tetap memberiku semangat untuk bisa. Jika ada anak yang mencemoohku, si Gembong selalu memberiku semangat untuk berubah. Dia tidak membelaku, hanya menyemangatiku. Menurutku itu baik, agar aku mandiri, tidak manja dan tidak bergantung dengan orang lain terus.
Si Iyem kecil yang mengajariku bagaimana susahnya membangun rumah tangga. Aku lihat si Iyem kecil sudah bisa mencuci dan memasak diusianya yang sangat belia. Mengasuh adiknya yang masih bayi yang selalu rewel dan membantu orang tuanya di ladang. Sungguh tangguh si Iyem itu.
Mereka masih tetap disana, di kampung yang indah tempatku tumbuh besar bersama mereka. Suka duka kami lalui bersama tanpa berfikir sampai kapankah kami bisa menikmati masa-masa itu bersama? Apapkah kami akan berpisah kelak? Sekarang mereka sudah berumah tangga dan membesarkan anak. Mereka bahu membahu suami istri bekerja untuk menghidupi rumah tangga mereka. Tak banyak yang berubah dari mereka. Ya mereka tetap disana.
Aku, aku yang selalu dibantu oleh mereka telah terbang tinggi ke langit menggapai awan. Mengarungi samudera luas, melintas dan singgah di dalam dan luar negeri. Sudah sepatutnya aku bersyukur atas semua yang telah kulalui. Tak kan mudah kulupakan kenangan bersama mereka dan segala kebaikan mereka. Rindu benar hati ini hendak bersilahturahmi bersama mereka.
Aku telah mapan, aku telah merasa cukup. Pekerjaanku cukup bagus, penghasilanku cukup, teman-temanku dan kerabatku cukup dekat. Tapi apakah merasa cukup benar-benar cukup? Ketika aku merasa cukup, aku juga merasa hidupku jalan ditempat. Aku merasa hidupku stuck dan tak bisa maju lagi. Aku depresi dan aku ingin lebih. Hati ini ingin maju, maju terus. Apakah dengan menginginkan lebih aku tidak bersyukur atas rahmat dan nikmatmu ya ALLAH?
Aku masih ingin bersama mereka, mereka yang selalu baik dan membantuku – teman dekatku, teman kerjaku, dan teman masa laluku. Jika aku maju kedepan, itu berarti aku harus meninggalkan mereka. Menjauhi mereka. Memang aku tak akan melupakan begitu saja, tapi itu semua tak kan sama seperti dulu. Itu semua akan berubah.
Akankah aku menemukan mereka di tempat baruku ? Apakah ada orang seperti mereka ?
Ah sungguh sulit menerima suatu perubahan………….
*Foto diambil dari sini*
PS: Teman-temanku, terimakasih telah membuatku bermakna.
Ditulis dalam Gado-Gado | 8 Komentar »
Gadget Gratis (PS3, XBOX, Wii, Etc..)
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 15, 2007
Yang mau gadget-gadged gratis silahkan klik link berikut:
http://www.xpango.com?ref=91012006
Ditulis dalam Gado-Gado | 3 Komentar »
RIG COMPNENTS – HOISTING SYSTEM
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 13, 2007
Hositing system terdiri dari drawworks (Kadang-kadang disebut Hoist), mast atau derrick, crown block, traveling block dan wire rope (drilling line).
The Drawworks
Pada dasarnya, drawworks adalah seperti sebuah gulungan besar, terdiri dari sebuah drum yang dililit oleh drilling line. Kemudian drum kecil disebut sand reel dan digunakan untuk perlengkapan downh hole ringan, terletak dibelakang drum utama.
Brake utama membantu driller untuk mengontrol pergerakan drill string kebawah atau kedalam sumur (downward). Ketika beban berat diangkat atau diturunkan, main brake digerakkan oleh hydraulics tambahan atau electric brake untuk membantu menyerap momentum yang dihasilkan oleh beban berat tersebut.
Drawworks juga memiliki catshaft atau catheads, yang terpasang dan memiliki beberapa shaft, clutches dan chain-and-gear drive untuk perubahan kecepatan dan arah.
Satu cathead terpasang pada setiap ujung catshaft, yang kemudian akan terus berputar ketika drawworks mendapatkan tenaga dengan membungkus fiber rope besar (disebut catline) disekitar rotating spool. Anggota kru bisa mengangkat bagian dari peralatan yang hendak dipindahkan disekitar rig floor. Prosedur ini sedikit berbahaya, dan kebanyakan rig saat ini telah dilengkapi dengan air-powered hoist kecil, terpisah dari drawwork yang lebih aman dan mudah digunakan.

The Blocks and Drilling Line
Drilling line terbuat dari wire rope yang berdiameter sekitar 1⅛ sampai 1½ inchi. Wire rope ini sedikit kompleks. Bentuknya seperti orang kebanyakan sebut: kabel, tapi ini didesain khusus untuk mengangkat beban berat di rig.
Selama rig-up, drilling line harus dipasang pada hoisting system. Langkah pertama dalam pemasangan drilling line adalah dengan mengambil salah satu ujung line dari supply reel dan mengangkat ujungnya ke ujung paling atas mast atau derrick dimana terletak multiple pulley besar. Beberapa set besar pulley ini disebut crown block. Roda pulley disebut sheaves.
Drilling line dipasang melalui crown block sheave dan ditarik kebawah ke rig floor. Pada rig floor, terletak satu set pulley lagi atau sheaves yang disebut traveling block. Disitulah ujung line dilewatkan melalui satu dari sheaves pada traveling block dan ditarik lagi ke atas ke crown block. Disitulah line dilewatkan melalui sheaves pada crown block kemudian pada traveling block dan keatas lagi ke sheaves pada crown block. Proses ini diulang beberapa kali sampai pada jumlah line yang benar, sesuai kebutuhan beban yang akan diangkat (biasanya 8, 10 atau 12).
Setelah line terakhir terpasang pada crown block sheaves, ujungnya direndahkan ke rig floor dan dipasang pada drum drawworks. Beberapa gulungan line cukup mengelilingi drum. Bagian drilling line yang bergerak antara drawworks dan crown block disebut fast line – karena line ini bergerak 8-12 kali kecepatan traveling block.
Ujung drilling line yang lain, berada pada supply reel disebut dead line, disebut seperti itu karena terpasung dan tidak bergerak. Sebuah device yang disebut deadline anchor dipasang untuk tujuan ini. Sekarang traveling block bisa dinaikkan dari rig floor sampai keatas derrick dengan menggunakan drawworks (menarik line). Untuk merendahkannya, line pada drawworks diulur.
Ditulis dalam Rig Operational | 4 Komentar »
Kepala Burung Papua
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 7, 2007
Foto ini merupakan foto anak Burung Kasuari. Burung ini unik sekali khas burung dari wilayah timur Indonesia. Salah satu rekan kerja saya mendapatkannya di hutan sekitar area rig site. Menurut beliau, si induk sedang menggiring anak-anaknya mencari makan ketika teman saya ini lewat. Dengan semangat teman saya mengejar anak induk itu. Tak dapat induknya, anaknya pun jadi. Anehnya, anak burung ini cepat sekali jinak. Tak seperti unggas biasanya yang tak bisa nurut dengan manusia, tapi burung ini seperti anjing saja, jinak mengikuti sang majikan baru. Di papua sini, burung semacam itu sudah hal biasa, malah ada penduduk yang memeliharanya seperti halnya memelihara ayam. Ukurannya ktika dewasa cukup besar untuk ukuran unggas kebanyakan. Siap-siap saja mendapat complain dari tetangga, karena si burung dewasa gemar memakan apapun dan melibas apapun yang dilewatinya termasuk pagar kayu dan bambu.
Melihat anak Burung Kasuari merupakan salah satu pengalaman menarik saat saya bekerja di Papua. Lokasi kerja saya bertempat di Pulau Salawati, Papua Barat. Pulau ini cukup luas dan berada tepat di kepala burung Pulau Papua. Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Salawati, saya harus turun dari Bandar Udara Kota Sorong (Domine Eduard Osok). Kota ini konon merupakan pintu gerbangnya seluruh Papua. Terdiri dari multi etnis dan multi agama disini, dengan komposisi terbesar dari etnis bugis, makasar, maluku dan etnis-etnis lokal. Ada juga penduduk transmigran asal Jawa yang telah berada disini beberapa generasi. Kerukunan antar penduduk cukup baik dan hampir tak pernah ada keributan, sangat berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Gereja dan Masjid bersebelahan dengan rukun dan damai. Kota ini sungguh asri, bersih dan indah, meluas disepanjang pesisir pantai. Bagian belakang kota terdapat bukit-bukit yang cukup curam, tak heran kota ini berkembang memanjang mengikuti bibir pantai. Pantainya hijau biru bersih, ikan-ikan kecil tampak berenang ramai disekitar pelabuhan tempat saya akan menyeberang ke Pulau Salawati. Hanya satu hal yang kurang baik tentang Kota Sorong, yaitu pengidap HIV/AIDS yang cukup tinggi disini. Dianjurkan untuk tidak “JAJAN” sembarangan dan jangan lupa pakai pelindung.
Penyeberangan melalui pelabuhan Kota Sorong menuju Salawati memakan waktu sekitar dua jam perjalanan, melewati pulau-pulau kecil indah yang tak berpenghuni. Perahu-perahu penduduk setempat tak banyak melintas. Perairan disini benar-benar masih jauh dari jangkauan tangan-tangan manusia. Pelabuhan di Salawati tidak begitu besar, hanya untuk satu atau dua boat saja yang bisa berlabuh. Dari sini, saya harus menumpang mobil dan meneruskan perjalanan sekitar setengah jam untuk sampai di camp. Disini saya merasa sangat takjub, hampir tiga per empat dari Pulau Salawati ini terdiri dari Hutan Sagu. Pohon-pohon Sagu disini tumbuh liar tanpa ada yang menanam. Awalnya saya kira pohon-pohon tersebut sejenis palem-paleman setempat atau kelapa sawit karena bentuknya yang hampir sama. Tapi setelah saya tanya dengan rekan saya yang telah lama berada disini, itu adalah Pohon Sagu. Sungguh, ini benar-benar ladang emas. Sagu yang begini banyak tinggal tunggu panen saja, dibiarkan tumbuh liar tak terkendali. Tak ada yang mengklaim daerah itu, mungkin hanya sebagian kecil saja yang merupakan lahan penduduk lokal. Andai saja ada investor yang mau mendirikan pabrik pengolahan sagu disini, akan meraup keuntungan besar dan bisa membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat dengan hasil sagu yang melimpah ruah begini. Setahu saya, penduduk lokal hanya mengolah sagu secara tradisional untuk keperluan sehari-hari mereka. Foto berikut saya ambil disalah satu tempat pengolahan sagu penduduk setempat secara tradisional. 
Sayang sekali, kunjungan saya kali ini tidak bertepatan dengan musim durian. Jangan sangka kalau durian banyak di pulau sumatera saja. Tahun lalu ketika saya bekerja disini bertepatan dengan musim durian. Sailolof adalah perkampungan kecil disalah satu sudut Pulau Salawati ini yang penduduknya menanam Pohon Durian. Mereka bukan penduduk asli pulau ini. Menurut pengakuan mereka, nenek moyang mereka yang berasal dari Maluku telah datang dan mendiami pulau ini cukup lama dan telah menanam banyak sekali Pohon Durian. Pernahkah terbayangkan berada di hutan durian yang dipenuhi dengan buah durian bergelantungan dimana-mana, dan terkadang terdengar bunyi booom keras pertanda ada durian jatuh. Menurut penduduk setempat, tak perlu takut jalan dibawah buah-buah matang tersebut jika hati kita bersih. Hanya orang sial dan celaka saja yang bisa tertimpa durian jatuh dan dipastikan orang itu berhati busuk. Percaya atau tidak, terserah anda yang menilai. Penduduk disini sangat ramah, mereka akan menyuguhkan hasil kebun mereka untuk disantap. Tak usah khawatir berapa yang harus kita bayar untuk durian yang mereka suguhkan. Semua gratis. Makan sepuasnya. Tapi tetap, sebagai rasa terimakasih kita harus memberi mereka uang. Dengan uang tiga puluh ribu saja kita akan diberi bonus oleh-oleh durian sekarung. Sanggupkah menghabiskan begitu banyak durian?
Siang itu panas sekali, saat saya memluai pekerjaan disini. Bukan rig drilling yang saya jumpai melainkan rig kecil untuk keperluan workover atau well service. Tak begitu banyak pekerjaan di rig kecil seperti ini. Aktivitasnya pun tak sesibuk rig drilling. Sumur yang sudah memproduksi minyak pada saat-saat tertentu perlu juga diservis agar produksinya selalu prima. Bentuk sumur seperti ini sudah jadi, dalam arti bentuknya sudah cantik siap digunakan. Tak banyak perlakuan terhadap sumur produksi, berbeda dengan sumur explorasi, oleh karenanya rig kecil saja sudah cukup. Pekerjaan utama men-service sumur tak lepas dari bersih-bersih lubang yang terdiri dari pengangkatan pipa tubing, mengeluarkan pompa dan motor dari dalam sumur dan membersihkannya. Jika pompa dan motor rusak, biasanya akan diganti dengan yang baru dan kemudian dimasukkan lagi ke dalam sumur untuk memproduksi minyak kembali. Atau jika produksi minyak menurun, akan dilakukan kegiatan swab atau dalam bahasa sederhananya menyedot minyak didalam formasi batuan agar lebih mudah dan lebih banyak minyak yang mengalir ke dalam sumur. Dan masih ada beberapa pekerjaan lagi dalam workover atau well service tergantung kebutuhan.

Pada saat kru kami selesai men-setting peralatan saat ini, aktivitas rig sedang mencabut tubing dari dalam sumur. Sialnya, dua buah pompa, motor, protector dan gas separator tertinggal di dalam sumur. Terpaksa dilakukan pekerjaan fishing untuk mengangkat alat-alat tersebut. Pekerjaan fishing cukup sulit karena tidak diketahui keadaan di bawah sana seperti apa. Bisa saja hanya satu pompa yang berhasil diangkat, sebagian, atau bisa juga semuanya. Tergantung keberuntungan juga. Pekerjaan fishing ini bisa memakan waktu berhari-hari lamanya.
Ada beberapa hal yang merepotkan ketika bekerja di rig darat seperti ini. Jika hujan tiba, bersiaplah bergelut dengan Lumpur. Kondisi tanah disekitar rig tidaklah padu, apalagi ketika dilewati oleh truck-truck besar, forklift ataupun crane. Diperlukan sepatu khusus untuk melintasi daerah-daerah berlumpur ini, jika tidak sepatu biasa pastilah rusak akibat korban Lumpur. Dirt Disaster.
Kembali ke Kota Sorong. Jika anda berminat untuk tinggal di kota ini, anda bisa mencobanya. Kota ini tidak seudik yang dibayangkan. Saya tekejut ketika tahu bahwa tingkat kehidupan penduduknya cukup tinggi. Murid sekolah menengah saja ber-HP Nokia N-95. Hand phone Nokia E-90 Communicator yang berharga masih empat belas jutaan sudah hal biasa disini. Tak ada orang yang mau menggunakan hand phone seharga dibawah satu jutaan. Tukang ojeg saja memiliki hand phone yang cukup bagus. Sarana-sarana umum juga sudah cukup memadai. Ini cerminan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat kota ini sudah baik. Anda tertarik untuk tinggal atau memulai bisnis di Sorong? Silahkan mencoba.
Ditulis dalam Journey, Rig Operational | 8 Komentar »
RIG COMPONENTS – POWER SYSTEM
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 7, 2007
Menurut praktik, setiap rig menggunakan diesel internal combustion engines sebagai sumber tenaga utama atau prime mover. Pada mesin diesel, the heat of compression memanaskan campuran antara fuel dan udara di dalam mesin.
Sebuah rig, tergantung ukurannya dan maksimum kedalaman yang bisa dicapai, akan memiliki satu atau lebih prime mover. Rig besar memiliki tiga atau empat, bersama mereka membangkitkan sekitar 3000 atau lebih horsepower. Tentu saja tenaga yang dihasilkan harus dikirimkan ke bagian komponen rig yang lain.
Dua metode yang sering digunakan untuk transmisi tenaga :
· Mechanical Power Transmission – Diesel-mechanical power ditemukan pada sebagian besar rig kecil atau rig model lama. Tenaga yang dihasilkan dikumpulkan; mesinnya terhubung melalui hydraulic couplings atau torque conventers dan dengan chain dan pulleys. Rangkain chain dan pulley ini dikenal sebagai compound karena menghubungkan beberapa mesin bersama-sama sehingga mesin-mesin tersebut dapat digunakan sekaligus. Compound selanjutnya mengirimkan tenaga melalui chain drive tambahan ke hoisting dan lifting equipment.
· Electrical Power Transmission – Diesel-electric power adalah metode yang digunakan paling sering saat ini. Mesin diesel, pada rig darat terletak pada ground level beberpa jauh dari rig, mengontrol altenators besar. Alternator memproduksi AC power yang dikirmkan melalui kabel ke electric switch-and-control gear. Dari sini, sebagian besar degenerated menjadi DC dan dikirimkan melalui kabel ke electric motor yang terpasang langsung pada peralatan bersangkutan.
Diesel electric system memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan mechanical system. Diesel-electric meniadakan semua berat, compund yang rumit dan chain drive. Juga, mesinnya bisa ditempatkan jauh dari rig floor sehingga suara bising mesin berkurang.
Ditulis dalam Rig Operational | 2 Komentar »
Suka Duka Di Lokasi Geothermal
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 7, 2007

Sudah beberapa lama saya tidak menulis di blog ini, hal itu dikarenakan penugasan saya yang berpindah-pindah. Setelah di Laut Timor, saya diberi tugas untuk bekerja di area Gunung Salak, Sukabumi. Di tempat ini sayangnya tidak ada akses internet, yah mungkin karena kontrak dengan client yang tidak menyediakan akses internet.
Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Sukabumi melalui tol Jagorawi kemudian keluar di pintu tol Ciawi. Kemudian jalan akan semakin menyempit begitu keluar dari jalan utama Sukabumi. Saya lupa nama desa yang saya lalui, yang saya ingat penduduk di kawasan itu berkebun teh. Sungguh indah hamparan hijau perkebunan teh di area pegunungan. Saya fikir tempat ini cukup unik, beberapa sinetron atau film mungkin pernah syuting di tempat ini. Selain kebun teh yang indah, disini juga ada pabrik pengolahan teh yang sangat tua terbukti dengan adanya beberapa tulisan dalam bahasa Belanda, cocok buat syuting film horror. Sayang saya kurang memperhatikan detail-detail tempat ini, karena bukan itu tujuan saya kesini.
Lepas dari kebun teh perjalanan kemudian memasuki hutan konservasi dimana terletak area operasi salah satu operator minyak di Indonesia. Tapi kali ini sang operator tidak mencari minyak bumi melainkan panas bumi alias geothermal. Uap dari hasil tungku pemanas alami bumi ini berguna sebagai pembangkit tenaga listrik. Sekitar 20 tahun lalu, bisnis panas bumi dianggap tidak cukup menguntungkan. Tetapi saat ini begitu krisis energi mulai merebak dan kebutuhan energi listrik semakin meningkat, bisnis ini mulai dilirik. Uap panas dijual dan ditampung di dua power plant yang dikelola oleh Indonesia Power. Uap dialirkan melalui pipa-pipa yang bentuknya sedikit berbeda dengan pipa minyak. Pipa uap diberi lapisan terluar yang tahan terhadap panas, sehingga pipa tidak menyebarkan panas ke area sekitarnya.
Geothermal merupakan panas yang dihasilkan bumi. Geo berarti bumi, sedangkan thermal berarti panas. Prinsip dasarnya sederhana saja, daerah yang berada disekitar gunung berapi bisa dipastikan terdapat potensi panas bumi. Lalu muncul pertanyaan, mengapa di gunung? Gunung terbentuk akibat dari pergerakan lempeng bumi (plate tectonic) yang menyebabkan keluarnya magma dari perut bumi. Magma inilah yang menjadi tungku alaminya. Sama seperti kita memasak air, ketika air mendidih akan menghasilkan uap. Disekitar gunung berapi, magma tetap ada dekat dengan permukaan, sehingga bisa dicapai dengan mengebornya. Tetapi dalam pengeboran geothermal, bukan magmanya yang dicari, tapi uapnya. Jadi cukup mengebor sampai kedalaman tertentu hingga mencapai area berongga tempat air dipanaskan.
Konsep pengeboran pada geothermal sangat berbeda dengan pengeboran minyak bumi. Pada minyak bumi, pengeboran dilakukan untuk mencari lapisan batuan yang mengandung minyak bumi, seperti lapisan batuan yang diibaratkan sponge yang berisi minyak. Pada geothermal justru mencari rongga-rongga (crack). Pada pengeboran minyak bumi, crack seperti ini justru dihindari, karena akan menyebabkan hilangnya Lumpur bor ke dalam formasi batuan. Ini dapat merusak formasi batuan sekitarnya. Jadi prinsip-prinsip dasar pengeboran pada minyak bumi tidak dapat diterapkan sepenuhnya pada pengeboran geothermal.

Bekerja pada lokasi geothermal sebenarnya sangat menyenangkan. Setiap hari saya bisa menghirup udara segar pegunungan, memandang pemandangan yang indah-indah seperti bukit dan lembah hijau di kejauhan, hijaunya hutan disekitar membuat sejuk mata memandang serta berbagai macam burung dan kicauannya yang merdu. Terkadang jika beruntung, saya bisa juga melihat sekumpulan monyet-monyet bergelantungan di dahan pohon. Menurut beberapa awak yang pernah melakukan pengeboran sumur jauh di dalam hutan, mereka pernah melihat harimau juga. Tapi sampai saat ini, saya belum pernah menyaksikan harimau seperti yang diceritakan awak pengeboran tersebut. Semua kesenangan itu bisa saya nikmati setiap hari jika saya bekerja shift siang. Jika bekerja malam hari, duka menghampiri. Mulai dari temperatur udara yang ampun dinginnya, satu lapis baju saja tak kan sanggup mengusir beku, ancaman binatang buas sampai makhluk halus yang selalu menemani. Just kidding.
Secara keseluruhan, lebih banyak hal-hal menyenangkan disini dari pada yang menyedihkan. Ada sekitar dua tempat pengeboran geothermal yang serupa saat ini. Satu lagi berada di Gunung Darajat sekitar Garut. Cukup lama juga saya bekerja di Gunung Darajat, sekitar enam bulan, yang kemudian akhirnya saya berkelana ke Laut Timor. Memang bisnis geothermal sekarang sedang menggeliat di beberapa tempat di Indonesia. Menurut rencana, ada beberapa lokasi yang akan dikembangkan potensi geothermalnya seperti di Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Tampomas, Gunung Bromo, dan lain-lain.
Ditulis dalam Journey, Rig Operational | 8 Komentar »
RIG COMPONENTS – MAST & SUBSTRUCTURE
Ditulis oleh pr4s di/pada Desember 7, 2007
Setelah contractor mendapatkan rig yang sesuai dan membawanya ke area site, langkah berikutnya adalah merangkai rig menjadi satu sehingga proses drilling dapat berlangsung. Proses ini diberi istilah sebagai “rigging up”.
Untuk Land Rig, yang pertama adalah substructure – metal penyangga utama yang berada paling bawah diatas tanah dimana lobang sumur berada – dibawa dan dirangkai. Substructure akan menopang mast atau derrick, beberapa pipa untuk mengebor sumur, serta mesin hoisting dan rotating. Terkadang, tergantung desainnya, engine untuk memberi tenaga pada mesin-mesin rig juga merupakan bagian dari substructure.

Setelah substructure berada pada tempatnya dan telah terangkai, power system sudah berada pada posisinya, langkah berikutnya adalah mengangkat mast atau derrick berdiri diatasnya. Derrick adalah structure yang berbentuk menara atau tower yang dirangkai bagian demi bagian menjadi satu, membutuhkan kru rig untuk merangkainya dengan baut-baut.
Sedangkan mast dirangkai pada suatu tempat dimana ia diproduksi pertama kali dan tak akan dibongkar pasang lagi. Sifatnya portable. Kebanyakan istilah mast dan derrick merupakan istilah yang digunakan untuk benda yang sama, padahal tidak demikian. Sebagaian besar rig-rig modern telah dilengkapi dengan mast, walaupun beberapa rig khususnya offshore platform masih memiliki standard derrick.
Mast akan mensupport dan menopang semua peralatan hoisting, tapi juga memiliki fungsi penting sebagai rack penyedia tempat untuk drill pipe (DP). Secara periodik selama drilling, sebuah string (rangkaian drill pipe) akan diangkat (tripped) untuk mengganti bit atau untuk tujuan lain. Proses ini akan berlangsung lebih cepat jika tidak perlu melepas seluruh bagian string yang keluar dari lubang.
Panjang derrick atau mast tergantung pada berapa banyak (joints) drill pipe yang akan ditegakkan secara vertical. Biasanya derrick atau mast berukuran double ( satu stand = dua joint DP dirangkai jadi satu ) atau triple ( satu stand = tiga joint DP ).
Mast dan derrick harus kuat dan portable. Pertimbangannya jika mengebor pada satu
sumur dalam, berat rangkaian drill string bisa berbobot sampai 250 ton (500.000 pounds). Tidak hanya itu, setelah menyelesaikan satu sumur, rig akan dipindahkan berkilo-kilo meter jauhnya untuk memulai mengebor sumur baru.
Pabrikan yang memproduksi mast dan derrick biasanya memberi rate terhadap produknya untuk kekuatan vertical load dan wind load. Kapasitas mast dan derrick memiliki vertical load bervariasi mulai dari 0.25 juta sampai 1.5 juta API pounds. Sebagian besar mast dan derrick sanggup menahan hempasan angin sekitar 140 sampai 200 km/hr (sekitar 100 sampai 130 mph).
Sementara itu, proses rigging up lain tetap berlanjut. Steel pits (mud tank) dimana drilling fluid akan diletakkan – diposisikan dan dihubungkan menjadi satu. Para kru memasang walkways dan tangga-tangga. Perlengkapan tambahan seperti electric power, compressed air dan air dipasang untuk kepentingan operasi.
Ditulis dalam Rig Operational | 2 Komentar »










