Pada tanggal 11 october 2007, akhirnya saya pulang juga dari rig. Perjalanan menuju Jakarta lumayan lancar, walaupun mendapat sedikit penundaan di Singapore. Maskapai penerbangan icon negara saya ini sengaja menunda keberangkatan karena menunggu kedatangan pesawat dari London. Dari pembicaraan beberapa calon penumpang saya menyimpulkan bahwa sepertinya maskapai ini memiliki sedikit calon penumpang saat itu. Jadi mereka menunda sambil menunggu penumpang transit dari berbagai maskapai penerbangan yang hendak meneruskan penerbangan menuju Jakarta.
Tanggal 12 october pagi, lepas dari perjalanan dinas, saya menuju bandara sukarno-hatta untuk mudik. Kali ini saya menggunakan maskapai penerbangan paling ternama di Indonesia. Saya membeli tiket pesawat ini seharga 1.3 juta rupiah sekitar tiga minggu yang lalu, tujuan kota Pekanbaru. Tiket termahal yang pernah saya beli untuk penerbangan domestik. Saya sengaja datang lebih awal, sekitar dua jam lebih awal. Saya pikir dengan datang lebih awal, saya bisa bebas menentukan tempat duduk yang saya inginkan. Lagi pula lebih baik datang cepat dari pada terlambat, pikir saya.
Segera saya menuju counter check in di terminal 2F. Petugas counter menyambut saya dengan senyum manisnya. Kemudian saya menyapanya, “Selamat pagi mbak, saya minta tempat duduk pinggir jendela, bisa mbak?” Petugas counter menjawab “bisa”. Saya merasa senang sekali dan menyodorkan uang 30.000 rupiah untuk air tax. Setelah itu saya bergegas menuju ruang tunggu boarding.
Lebih kurang 30 menit saya menunggu, akhirnya sampai juga waktu boarding. Dengan bersemangat saya menuju nomor tempat duduk yang tertera pada boarding pass saya. Tapi kemudian, saya tertegun sesaat dan memeriksa kembali nomor tempat duduk yang ada pada boarding pass saya. Tak ada yang salah, tapi mengapa di tempat itu sudah ada orang yang duduk. Saya tanyakan hal itu dengan si pramugari sambil menyodorkan boarding pass saya “Mbak tempat duduk saya nomor ini benar tidak?” Si pramugari melihat boarding pass saya dan kemudian memeriksa tempat duduk yang saya maksud “Oh maaf pak, sudah ada yang duduk disitu, bapak bisa pindah ke tempat lain, disini saja ya pak.”
What the hell….. Ada apa dengan maskapai penerbangan ini? Namanya begitu tersohor sampai ke mancanegara, tapi untuk mengurus nomor tempat duduk saja tidak becus? Saya tak tau pasti apa yang telah terjadi. Di tempat duduk yang seharusnya buat saya itu sudah duduk lebih dulu serombongan orang. Mereka dengan acuhnya mengabaikan saya yang sedang kebingungan seolah tak terjadi apa-apa. Ini juga yang membuat saya kesal, kalau memang ingin duduk berdekatan dengan rombongannya, mereka itu bisa meminta izin dengan saya untuk merubah tempat duduk. Meminta maaf atau basa-basi atau apalah, jadi tidak kelihatan kampungan begitu. Bikin kesal saja. Mana lagi ditambah dengan posisi tempat duduk yang baru tidak senyaman yang saya harapkan. Saya duduk bersama dengan penumpang lain yang terakhir check in sehingga ia terpaksa duduk terpisah dengan rombongannya. Ah apalah gunanya saya datang lebih awal dan meminta tempat duduk yang saya inginkan jika akhirnya malah seperti ini.
Tak baik saya dongkol begini, ini puasa hari terakhir pikir saya. Sesampainya di Pekanbaru saya segera mengambil barang dan menuju counter taxi. Saya ingat setahun yang lalu bagaimana pelayanan taxi disini cukup baik. Cukup mendaftar dan menyebutkan tempat tujuan. Petugas counter akan melihat daftar harga berdasarkan tempat tujuan dan saya diminta untuk membayar pada saat itu. Jadi sesampainya di tempat tujuan, saya tidak perlu membayar lagi. Baik dan efektif pikir saya.
Tetapi ternyata saya salah besar. Sesampainya di tempat counter taxi, saya menyebutkan tempat tujuan dan saya diminta membayar 10000 ribu rupiah sama seperti pada bandara sukarno-hatta. Ternyata system yang berlaku tahun lalu telah berubah. Kemudian saya diberi tiket dan diantar oleh supir taxi yang akan mengantarkan saya. Pada tiket tertera harga yang harus saya bayar nanti sebesar jumlah argo plus 10000 rupiah. Setelah taxi melaju baru saya sadari bahwa ternyata taxi yang saya tumpangi itu tidak berargo. Disini kecurangan bakal terjadi, pikir saya. Kenapa system yang baik tahun lalu bisa berubah seperti ini? Apabila begitu, supir taxi bisa seenaknya saja menetapkan harga dan tidak ada transparansi mengenai harga. Kenapa perusahaan taxi ini tidak memegang komitmen sesuai dengan apa yang tertera pada tiket? Mereka sendiri yang membuat system tiket seperti itu, tapi kenyataan sebenarnya tidak demikian. Jangankan menjalankan argo, argo-nya pun tak ada. Hebat sekali. Saya dengar juga perusahaan taxi ini melakukan praktek monopoli dimana perusahaan taxi lain tidak bisa mengambil penumpang dari bandara.
Sesampainya di tempat tujuan, saya membayar sesuai dengan permintaan si supir. Saya tidak tau apakah ongkos yang saya bayarkan itu sesuai atau tidak. Saya hanya bisa mengelus dada setelah saudara saya mengatakan bahwa saya membayar terlalu mahal dari harga seharusnya. Benar saja, memang si supir sudah seenaknya saja menetapkan harga. Saya ingin menuntut juga sulit, tak ada argo dan ah sudahlah.
Apakah memang seperti ini pelayanan angkutan yang ada di negara kita ini? Perusahaan ternama saja belum mampu menyuguhkan pelayanan yang baik. Apalagi perusahaan kecil tak ternama dan di daerah pula. Perusahaan besar seharusnya menjadi contoh dan panutan bagi perusahaan kecil, bukan sebaliknya. Apakah karena tidak adanya perusahaan tandingan sehingga perusahaan tersebut bisa berbuat seenaknya saja? Jika demikian kapan majunya ya?

















Deep Impact?Kedua film tersebut menceritakan tentang kelangsungan umat manusia di bumi ini pada saat bumi diancam oleh suatu musibah besar. Pada bagian prolog film Armageddon yang diperankan oleh Bruce Willis, digambarkan sebuah animasi meteor besar yang menghantam bumi yang menyebabkan musnahnya makhluk hidup pada masa itu (Dinosaurus). Kemudian cerita berlanjut pada kehidupan manusia pada saat sekarang yang sedang diancam oleh tabrakan meteor dan bumi seperti yang pernah terjadi pada masa Dinosaurus punah. Sama seperti film Armageddon, film Deep Impact yang diperankan oleh Elijah Wood, juga mempunyai cerita yang hampir serupa dengan Armageddon. Bedanya, pada Armageddon manusia berhasil mencegah meteor menabrak bumi, sedangkan pada Deep Impact tidak demikian. Jika ingin tau lebih detail, silahkan nonton filmnya. *(